Mengulik Sejarah MULO: Jejak Pendidikan Masa Kolonial di Indonesia!
Mengulik Sejarah MULO: Jejak Pendidikan Masa Kolonial di Indonesia!-net: foto-
BACA JUGA:Ternyata Ini yang Dibahas dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung
MULO dan Mobilitas Sosial
Bagi masyarakat pribumi, bisa masuk dan lulus dari MULO adalah tiket emas untuk memperbaiki status sosial dan ekonomi.
Lulusan MULO banyak yang bekerja di bidang pemerintahan sebagai pegawai negeri, guru, atau tenaga administrasi di perusahaan-perusahaan besar. Pendidikan di MULO membuka peluang yang sebelumnya hampir mustahil dijangkau oleh orang pribumi biasa.
Namun, selain biaya yang tinggi, tantangan lain adalah soal kemampuan berbahasa Belanda yang harus sangat baik sejak awal pendaftaran.
Tokoh Nasional Lulusan MULO
BACA JUGA:Mengenal Kisah Sejarah Danau Beratan Bedugul: Pesona Alam dan Warisan Budaya Bali!
Beberapa tokoh pergerakan nasional Indonesia diketahui pernah mengenyam pendidikan di MULO.
Pendidikan yang diperoleh dari sekolah kolonial seperti MULO membekali para tokoh ini dengan pengetahuan global, sekaligus membuka wawasan kritis terhadap ketidakadilan kolonialisme.
Dalam banyak kasus, pengalaman belajar di MULO justru menumbuhkan semangat nasionalisme.
Siswa-siswa pribumi yang merasakan perlakuan diskriminatif di sekolah itu mulai mempertanyakan sistem penjajahan dan mencari jalan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Kejatuhan dan Warisan MULO
BACA JUGA:Mengenal Kisah Sejarah Danau Beratan Bedugul: Pesona Alam dan Warisan Budaya Bali!
Seiring berkembangnya gerakan nasionalisme dan perubahan politik di Hindia Belanda, sistem pendidikan termasuk MULO pun perlahan mengalami pergeseran.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, nama dan sistem MULO dihapuskan. Pendidikan nasional Indonesia mulai membentuk struktur baru, lebih inklusif dan disesuaikan dengan cita-cita bangsa merdeka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
