Mengulik Sejarah MULO: Jejak Pendidikan Masa Kolonial di Indonesia!
Mengulik Sejarah MULO: Jejak Pendidikan Masa Kolonial di Indonesia!-net: foto-
PAGARALAMPOS.COM - Ketika membicarakan pendidikan di masa Hindia Belanda, nama MULO sering kali disebut.
Sistem ini tidak hanya menjadi fondasi pendidikan modern di tanah air, tapi juga membuka jalan bagi banyak tokoh besar bangsa dalam menempuh jalur intelektual.
Apa Itu MULO?
MULO pertama kali didirikan pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1900-an. Secara harfiah, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar yang Lebih Lanjut".
BACA JUGA:Alasan Mengapa Ibu Kandung Kartini Hanya Berstatus Selir dan Memanggil Anak-anaknya dengan 'Ndoro'
Bisa dibilang, MULO adalah cikal bakal dari jenjang SMP di Indonesia modern. Namun, cakupan pelajarannya jauh lebih kompleks, dan hanya kalangan tertentu yang bisa mengakses pendidikan ini.
Pada masa itu, Belanda sangat menyeleksi siapa saja yang boleh bersekolah di MULO. Awalnya, sekolah ini dibuka khusus untuk anak-anak keturunan Eropa dan Indo-Eropa.
Namun, seiring waktu, anak-anak pribumi, Tionghoa, dan bangsa Timur Asing lainnya juga diberi kesempatan masuk, tentunya setelah melewati seleksi ketat.
Kurikulum dan Bahasa Pengantar
BACA JUGA:Kisah Misterius Makam Pendiri Surabaya yang Ditemukan Saat Kebakaran Hebat di Tahun 1980-an
Mata pelajaran yang diajarkan meliputi bahasa Belanda, matematika, ilmu alam, sejarah, geografi, serta bahasa asing seperti Inggris, Prancis, atau Jerman.
Bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar utama, sehingga siswa dituntut untuk fasih membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa tersebut.
Hal ini membuat lulusan MULO memiliki kemampuan intelektual yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata masyarakat pada masa itu.
Tidak jarang, mereka kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti HBS (Hoogere Burger School) atau bahkan ke universitas di Belanda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
