Pemkot PGA

Sejarah Gedung Juang 45 Bekasi Pengingat Pentingnya Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah Gedung Juang 45 Bekasi Pengingat Pentingnya Perjuangan Kemerdekaan

gedung ini dikenal dengan nama Landhuis Tamboen, yang merupakan rumah besar yang dibangun pada awal abad ke-20 oleh Khouw Tjeng Kie-net-

PAGARALAMPOS.COM - Gedung Juang 45 Bekasi merupakan salah satu situs bersejarah yang menyimpan cerita panjang terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Terletak di Jalan Sultan Hasanudin No. 39, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, gedung ini lebih dari sekadar bangunan tua, karena menjadi saksi penting dari berbagai peristiwa yang turut mengubah sejarah bangsa.

Awalnya, gedung ini dikenal dengan nama Landhuis Tamboen, yang merupakan rumah besar yang dibangun pada awal abad ke-20 oleh Khouw Tjeng Kie, seorang tuan tanah asal Tionghoa. Pembangunan dimulai pada tahun 1906 hingga 1910, dan dilanjutkan pada 1925, dengan desain arsitektur kolonial yang dipadu dengan elemen budaya Tionghoa.

BACA JUGA:Sejarah Gerwani: Perjuangan Emansipasi Perempuan yang Dihapus oleh Tragedi 1965!

Bangunan yang megah dan luas ini mencerminkan kemewahan zaman itu, mencerminkan status sosial pemiliknya. Setelah Khouw Tjeng Kie meninggal, kepemilikan gedung beralih ke anaknya, Khouw Oen Hoei, namun sejarah gedung ini berubah setelah penjajahan Jepang.

Pada 1943, saat tentara Jepang menguasai Indonesia, Landhuis Tamboen diambil alih dan dijadikan markas militer, mengubah fungsi gedung yang semula megah menjadi pusat kekuasaan kolonial.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, situasi politik tanah air semakin memanas. Pada tahun yang sama, gedung ini berhasil dikuasai oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) dan dijadikan markas perjuangan melawan tentara sekutu.

BACA JUGA:Sejarah Suku Sakai: Menelusuri Asal Usul, Kehidupan Tradisional, dan Perjuangan di Tengah Modernisasi!

Gedung ini kemudian menjadi pusat komando bagi para pejuang yang berusaha mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kekuasaan kolonial Belanda.

Meski Belanda sempat kembali menguasai gedung ini pada 1949, para pejuang Indonesia berhasil merebutnya kembali, menjadikan gedung ini simbol semangat perjuangan yang gigih.

Seiring berjalannya waktu, gedung ini mengalami berbagai perubahan fungsi. Pada 1949, gedung ini digunakan sebagai kantor sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Bekasi dan sempat menjadi tempat sidang-sidang DPRD-GR hingga 1960.

BACA JUGA:Sejarah Hari Kartini: Mengenang Perjuangan Sang Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia!

Selain itu, gedung ini pernah pula dijadikan tempat tahanan politik pada 1962, menunjukkan peranannya yang sangat penting dalam sejarah sosial dan politik Indonesia.  Pada 1982, gedung ini kembali berubah fungsi menjadi Kampus Akademi Pembangunan Desa, yang kini dikenal sebagai Universitas Islam 45 Bekasi.

Ini menandai perubahan dari tempat perjuangan fisik menjadi pusat pendidikan dan pengembangan intelektual. Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, Gedung Juang 45 mulai dipandang sebagai warisan sejarah yang harus dilestarikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait