Pemkot PGA

Sejarah Gerwani: Perjuangan Emansipasi Perempuan yang Dihapus oleh Tragedi 1965!

Sejarah Gerwani: Perjuangan Emansipasi Perempuan yang Dihapus oleh Tragedi 1965!

Sejarah Gerwani: Perjuangan Emansipasi Perempuan yang Dihapus oleh Tragedi 1965!-net: foto-

PAGARALAMPOS.COM - Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) merupakan salah satu organisasi perempuan paling berpengaruh di Indonesia pada pertengahan abad ke-20.

Didirikan pada tahun 1950, Gerwani awalnya memiliki misi yang sejalan dengan perjuangan emansipasi perempuan.

Namun, sejarah mencatat bahwa perjalanan organisasi ini tidak hanya diwarnai oleh semangat pembebasan perempuan, tetapi juga oleh kontroversi politik yang berujung pada pembubaran tragis di tahun 1965.

Awal Mula dan Visi Emansipasi

BACA JUGA:Alasan Mengapa Ibu Kandung Kartini Hanya Berstatus Selir dan Memanggil Anak-anaknya dengan 'Ndoro'

Gerwani lahir dari semangat kemerdekaan yang masih menggelora setelah Indonesia lepas dari penjajahan Belanda.

Saat itu, perempuan Indonesia mulai sadar akan pentingnya peran mereka dalam pembangunan bangsa.

Organisasi ini dibentuk oleh tokoh-tokoh perempuan progresif seperti S.K. Trimurti, Umi Sarjono, dan Supeni. Gerwani memiliki agenda utama yang mencakup pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan hak di bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Mereka aktif mengadvokasi hak-hak buruh perempuan, perbaikan kondisi kerja, hingga peran ibu dalam keluarga dan masyarakat.

BACA JUGA:Kisah Misterius Makam Pendiri Surabaya yang Ditemukan Saat Kebakaran Hebat di Tahun 1980-an

Hubungan dengan PKI

Walaupun awalnya Gerwani bukan organisasi di bawah PKI, hubungan antara keduanya semakin erat, terutama karena kesamaan visi dalam mengangkat kaum tertindas, termasuk perempuan dari kalangan bawah.

Gerwani pun menjadi bagian dari organisasi massa yang tergabung dalam Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), konsep yang digagas Presiden Soekarno untuk mempersatukan berbagai kekuatan politik saat itu.

Hubungan ini memperkuat posisi politik Gerwani, namun juga membuat organisasi ini rentan terhadap dinamika dan konflik politik yang terjadi, terutama ketika kekuatan anti-komunis mulai bangkit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait