Pemkot PGA

Generasi Z dan Fenomena Quiet Life, Mencari Ketenangan di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Generasi Z dan Fenomena Quiet Life, Mencari Ketenangan di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Mencari Ketenangan di Tengah Riuhnya Dunia Digital-net-kolase

PAGARALAMPOS.COM - Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk dunia digital, muncul sebuah tren baru di kalangan Generasi Z yang dikenal sebagai fenomena “Quiet Life”.

Fenomena ini menggambarkan keinginan generasi muda untuk menemukan ketenangan, mengurangi kebisingan digital, dan menjalani hidup yang lebih sederhana dan mindful di tengah era teknologi yang terus berkembang pesat.

Generasi Z, yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan kemajuan teknologi digital, justru kini mulai menunjukkan kecenderungan untuk membatasi penggunaan media sosial, mengurangi paparan terhadap konten yang berlebihan, dan mencari ruang bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka.

BACA JUGA:Generasi Muda Kian Melek Digital, Urus Tanah Kini Cukup Lewat Sentuh Tanahku

Survei dari Institut Psikologi Sosial Indonesia (IPSI) pada tahun 2025 menemukan bahwa sekitar 58 persen dari responden Gen Z merasa lelah secara mental akibat tekanan media sosial dan memilih untuk menjalani gaya hidup yang lebih tenang dan terkendali.

“‘Quiet Life’ bukan berarti menjauh sepenuhnya dari teknologi, melainkan lebih pada bagaimana kita menggunakan teknologi secara sadar dan membatasi distraksi yang tidak perlu,” ujar Dr. Ayu Kartika, psikolog klinis dari Universitas Indonesia.

“Ini adalah bentuk adaptasi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan.”

BACA JUGA:Digitalisasi Pertanahan Buka Akses Permodalan Lebih Luas

Fenomena ini juga tercermin dalam gaya hidup sehari-hari, seperti preferensi untuk aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku fisik, meditasi, berkebun, atau sekadar berjalan di alam bebas tanpa terganggu oleh notifikasi ponsel.

Banyak Gen Z yang mulai mengadopsi digital detox secara berkala sebagai bagian dari rutinitas mereka untuk mengurangi stres dan meningkatkan fokus.

Kementerian Kesehatan melalui program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) mendukung gerakan ini dengan mengkampanyekan pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengurangi paparan stres digital.

“Kita harus mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi agar tetap sehat secara fisik dan mental,” ungkap dr. Siti Rahmawati, Juru Bicara Kemenkes RI.

BACA JUGA:Gen Y dan Z Jadi Motor Penggerak Transformasi Digital Layanan Pertanahan

Fenomena “Quiet Life” juga membuka peluang baru di berbagai industri, termasuk penerbitan buku fisik, kafe dengan konsep nyaman, serta aplikasi dan layanan yang mendukung mindfulness dan kesehatan mental. Komunitas-komunitas yang mempromosikan gaya hidup sederhana dan mindful pun semakin banyak bermunculan di media sosial.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait