RIS 1949: Saat Indonesia Hampir Terpecah oleh Kepentingan Politik dan Kolonial
RIS 1949: Saat Indonesia Hampir Terpecah oleh Kepentingan Politik dan Kolonial-Foto: net -
PAGARALAMPOS.COM - Tak banyak yang mengetahui bahwa Indonesia pernah berstatus sebagai negara serikat, meskipun hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Sebelum masyarakat benar-benar mengerti makna dari sistem ini, bentuk negara tersebut akhirnya dibubarkan dan kembali menjadi negara kesatuan.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1949, setelah Belanda menyerah, namun dengan beberapa ketentuan.
Mereka menolak mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 secara langsung.
Sebagai gantinya, Belanda memilih menyerahkan kekuasaan kepada sebuah federasi yang dinamakan Republik Indonesia Serikat (RIS).
BACA JUGA:Sejarah Suku Osing: Menelusuri Jejak Budaya Leluhur di Ujung Timur Jawa!
BACA JUGA:Sejarah Suku Moronene: Warisan Leluhur yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi!
RIS terdiri dari 16 negara bagian, termasuk Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Jawa Timur, dan juga Negara Madura—yang pernah dianggap sebagai entitas negara tersendiri.
Namun, rakyat tidak sepenuhnya menerima RIS karena pembentukan negara-negara bagian tersebut bukan berasal dari keinginan masyarakat, melainkan strategi politik Belanda yang menggunakan politik pecah belah (devide et impera).
Mereka sadar bahwa Indonesia yang bersatu akan sulit dikendalikan, sehingga memecahnya menjadi beberapa bagian adalah cara untuk melemahkan kekuatan nasional.
Secara teori, negara federal memang menjanjikan keadilan, dengan memberikan otonomi yang lebih besar bagi daerah untuk mengelola sumber daya dan menetapkan kebijakan sesuai kebutuhan lokal, tanpa semuanya harus dikendalikan dari pusat di Jakarta.
BACA JUGA:Kerak Telor. Makanan Betawi Paling Terkenal Kesukaan Bangsawan Belanda? Ini Sejarahnya!
BACA JUGA:Lurah Burung Dinang Ajak Warga Berkolaborasi Jaga Kebersihan
BACA JUGA:Sejarah Suku Bawean: Menelusuri Jejak Budaya di Pulau Kecil yang Kaya Tradisi!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
