Pemkot PGA

Menelusuri Sejarah Gunung Batukaru: Jejak Suci di Tanah Bali

Menelusuri Sejarah Gunung Batukaru: Jejak Suci di Tanah Bali

Menelusuri Sejarah Gunung Batukaru: Jejak Suci di Tanah Bali-net: foto-

PAGARALAMPOS.COM - Gunung Batukaru, berdiri megah di barat pulau Bali dengan ketinggian 2.276 meter di atas permukaan laut, bukan hanya gunung tertinggi kedua di pulau Dewata setelah Gunung Agung.

Tetapi juga merupakan tempat yang sarat makna spiritual dan sejarah bagi masyarakat Bali.

Gunung ini telah menjadi simbol kekuatan alam, tempat pemujaan, dan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Bali yang kaya akan filosofi hidup harmonis dengan alam semesta.

Asal Nama dan Makna Spiritual

BACA JUGA:Sisi Gelap Sejarah Indonesia, Pengakuan Pemerintah atas Tragedi 1965

Secara harfiah, Batukaru dapat dimaknai sebagai "batu pelindung". Nama ini tidak hanya menggambarkan bentuk fisik dari pegunungan yang kokoh, tetapi juga perannya sebagai pelindung spiritual dan geografis wilayah Bali bagian barat.

Bagi masyarakat Bali, Gunung Batukaru merupakan tempat yang suci. Ia dianggap sebagai salah satu dari sembilan titik penjuru mata angin (nawa sanga) yang melindungi pulau dari energi negatif.

Di puncak spiritualnya, Batukaru berfungsi sebagai benteng alam dan energi positif yang menjaga keseimbangan pulau Bali.

Pura Luhur Batukaru

BACA JUGA:Misteri yang Terukir, Ketika Batu Bicara dengan Bahasa yang Kita Tak Mengerti!

Tak jauh dari lereng Gunung Batukaru terdapat Pura Luhur Batukaru, sebuah pura kuno yang menjadi salah satu pura utama dalam sistem keagamaan Hindu Dharma di Bali.

Keberadaan pura ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, gunung ini telah menjadi pusat pemujaan para leluhur dan dewa penjaga alam.

Pura Luhur Batukaru didedikasikan untuk Dewa Mahadewa, penguasa Gunung Batukaru, dan menjadi tempat sembahyang bagi masyarakat Tabanan dan sekitarnya.

Hutan yang lebat dan udara yang sejuk menciptakan suasana mistis yang penuh kedamaian, memperkuat kesan bahwa tempat ini adalah jembatan antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Jejak Sejarah dan Budaya

BACA JUGA:Mengapa Ribuan Orang Ziarah ke Gunung Kemukus untuk Bersetubuh?

Secara historis, Gunung Batukaru juga berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan-kerajaan kuno di Bali, terutama Kerajaan Tabanan.

Gunung ini menjadi batas alam sekaligus tempat perlindungan dalam banyak peristiwa penting, termasuk saat konflik internal kerajaan atau bencana alam.

Pada masa lalu, lereng Batukaru digunakan sebagai tempat bertapa dan menyepi oleh para pertapa dan pemuka agama Hindu Bali.

Mereka mencari pencerahan spiritual dan koneksi langsung dengan alam semesta. Hingga kini, tradisi tersebut masih dilanjutkan oleh sebagian umat Hindu Bali, yang melakukan semedi dan ritual tertentu di area pegunungan ini.

BACA JUGA:Prabu Siliwangi dan Pasukan Gaib, Kisah Nyata atau Legenda?

Selain itu, keberadaan sumber mata air di sekitar Gunung Batukaru juga menjadi aspek penting secara budaya dan praktis.

Mata air ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk upacara adat dan agama, menandakan hubungan erat antara alam dan spiritualitas dalam kebudayaan Bali.

Ekosistem dan Pelestarian

Gunung Batukaru juga merupakan bagian dari kawasan hutan lindung yang sangat penting bagi ekosistem Bali.

Wilayahnya menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik, termasuk burung-burung langka dan berbagai jenis anggrek liar.

BACA JUGA:Sejarah yang Tak Terlupakan! Dari Sejarah Hingga Keindahan Alam Eksplorasi Pantai Lovina

Kawasan ini juga menjadi tempat bagi sistem subak, sistem irigasi tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Air dari Gunung Batukaru mengalir melalui saluran-saluran subak yang mengairi sawah-sawah di Tabanan, yang terkenal dengan keindahan sawah berundaknya.

Masyarakat lokal dan pemerintah daerah saat ini bekerja sama untuk menjaga kelestarian lingkungan Gunung Batukaru.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan eksploitasi lahan, kesadaran akan pentingnya menjaga gunung ini terus ditanamkan melalui pendidikan budaya dan program konservasi berbasis masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait