Mengapa Ribuan Orang Ziarah ke Gunung Kemukus untuk Bersetubuh?
Mengapa Ribuan Orang Ziarah ke Gunung Kemukus untuk Bersetubuh?-foto:net-net
PAGARALAMPOS.COM - Mengapa Ribuan Orang Ziarah ke Gunung Kemukus untuk Bersetubuh?
Gunung Kemukus sebuah bukit kecil yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah telah lama menjadi topik pembicaraan yang kontroversial di Tengah masyarakat.
Dikenal sebagai “Gunung Seks” oleh sebagian orang tempat ini menyimpan sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan budaya lokal tetapi juga spiritualitas kepercayaan dan ritual yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di balik kabut mistis dan stigma yang melekat terdapat sisi sejarah dan misteri yang belum banyak diketahui orang tentang tempat ini.
Asal-Usul Gunung Kemukus dan Legenda Pangeran Samudro
Sejarah Gunung Kemukus berkaitan erat dengan tokoh bernama Pangeran Samudro, seorang putra dari Raja Majapahit terakhir yang kabarnya melarikan diri ke daerah ini pada abad ke-15. Legenda setempat menyebutkan bahwa Pangeran Samudro jatuh cinta kepada ibu tirinya sendiri Nyai Ontrowulan.
Hubungan cinta yang terlarang ini menyebabkan mereka berdua diasingkan. Dalam pelariannya keduanya diyakini wafat dan dimakamkan di puncak Gunung Kemukus. Di sinilah awal mula tempat ini dianggap keramat.
BACA JUGA:Sejarah yang Tak Terlupakan! Dari Sejarah Hingga Keindahan Alam Eksplorasi Pantai Lovina
Makam Pangeran Samudro menjadi pusat ziarah spiritual bagi banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia terutama Jawa. Namun yang menarik adalah bentuk ritual yang dilakukan bukanlah ziarah biasa.
Dalam tradisi turun-temurun yang disebut “tirakat” terdapat praktik spiritual yang unik sekaligus kontroversial ritual “bersetubuh dengan orang yang bukan pasangan sah” selama tujuh malam berturut-turut.
Ritual Tirakat Mencari Keberuntungan Lewat Jalan Tak Biasa
Masyarakat meyakini bahwa ritual tersebut dilakukan bukan sebagai tindakan cabul semata melainkan sebagai bagian dari laku spiritual untuk mendapatkan berkah kelancaran rezeki bahkan kekuasaan. Ritual ini dimulai dengan ziarah ke makam Pangeran Samudro membakar dupa melantunkan doa, dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang bukan suami atau istri sah.
BACA JUGA:Sejarah dan Legenda Gunung Rinjani: Keindahan Alam dan Kepercayaan Spiritual Masyarakat Sasak
BACA JUGA:Sejarah yang Tak Terlupakan! Dari Sejarah Hingga Keindahan Alam Eksplorasi Pantai Lovina
Yang mengejutkan praktik ini bukan sesuatu yang dilakukan secara diam-diam. Sebaliknya dahulu dilakukan secara terbuka, terutama pada malam Jumat Pon dalam kalender Jawa. Ribuan orang datang dari berbagai daerah, baik pria maupun wanita, tua maupun muda untuk melakukan ritual ini dengan harapan hajat hidup mereka terkabul.
Misteri dan keanehan ini terus memicu berbagai pendapat. Sebagian melihatnya sebagai peninggalan mistik dan budaya spiritual Jawa yang telah disalahartikan. Sementara yang lain menganggapnya sebagai penyimpangan yang perlu dihentikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
