Gereja Khatolik Santo Mikael Tanjung Sakti Sumatera Selatan: Saksi Bisu Pembantaian Keji Oleh Penjajah

Gereja Khatolik Santo Mikael Tanjung Sakti Sumatera Selatan: Saksi Bisu Pembantaian Keji Oleh Penjajah

Gereja Khatolik Santo Mikael Tanjung Sakti Sumatera Selatan: Saksi Bisu Pembantaian Keji Oleh Penjajah--Net

PAGARALAMPOS.COM - Bangunan tua berusia ratusan tahun dengan arsitektur sederhana, yang sampai kini masih berdiri kokoh di simpang tiga, Kecamatan Tanjung Sakti jadi saksi dan bukti pusat penyebaran agama Khatolik pada jaman kolonial di Sumatera Selatan.

Ya, Gereja Santo Mikael terletak dan dibangun di Desa Pajar Bulan, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, pada 19 September 1898 oleh Pastor Jan Van Kamper SCJ.

Gereja ini telah berusia lebih dari seratus tahun, yaitu tahun ini usiannya 126 tahun. 

Menjadikan Gereja Santo Mikael jadi gereja tertua se-Sumatera Selatan.

BACA JUGA:Kisah Pilu di Balik Gereja Santo Mikael, Pembantaian Umat Katolik Masa Penjajahan Jepang di Tanjung Sakti?

BACA JUGA:Gereja Santo Mikael di Tanjung Sakti, Saksi Bisu Perkembangan Agama Katolik di Sumatera Selatan!

Namun, dibalik bangunan mega tersebut, tersimpan cerita pilu yang menyayat hati, cerita pembantaian jemaat Katolik pada masa penjajahan Jepang (Nippon).

Tentara Jepang menuding, jemaat Tanjung Sakti merupakan antek Belanda yang lebih dulu menjajah Indonesia. 

Sehingga hampir seluruh umat Khatolik dibantai saat itu.

Berdasarkan sejarah, Tanjung Sakti ini rencananya mau dijadikan pusat pemerintahan Belanda.

BACA JUGA:Yuk Nonton Film Air, Proses Pembuatan Sepatu Air Jordan, ini Sinopsisnya

BACA JUGA:Yuk intip Sinopsis Beau is Afraid, Film Genre Horor Karya Ari Aster

Tahun 1900 saja, penganut Khatolik disini sudah 500 orang, sedangkan Palembang hanya 80 orang, itupun merupakan orang Eropa. 

Bahkan, di wilayah Manna, berbatasan langsung dengan Tanjung Sakti, sudah ada Injil diterjemakan dalam bahasa daerah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: