Fiksional Epik Biopik Wawancara Vampir yang ‘Baik Hati’ yang telah Hidup Ratusan Tahun
Fiksional Epik Biopik Wawancara Vampir yang ‘Baik Hati’ yang telah Hidup Ratusan Tahun--google.com
Neil Jordan sang sutradara, bisa dikatakan berhasil menangkap intisari novel-nya yang berjudul sama;
Yakni kesepian hidup seorang vampir.
BACA JUGA:Tak Hanya Terkenal Dengan Kekayaan Budaya, Ternyata Sumatera Jadi Surganya Mata Air di Indonesia
Misalnya saja kita lihat pada adegan suckling blood-nya yang memang agak disturbing.
Tapi disturbing-nya itu ‘menyenangkan’. Eh, bukan menyenangkanlah, tapi bikin miris.
Alias kita bukan kasihan ama korbannya, tapi kasihan sama si Louis yang jadi tidak enak hati ngisap-ngisap darah orang.
BACA JUGA:Penyebaran Situs Budaya di Tanah Besemah Terus Dioptimalkan
Ahh, vampire kok tidak berani ngisap darah? Aneh kan?
Apalagi memang cukup sulit menemukan film ‘bertema vampir’ yang tidak melulu tentang cinta.
Atau 'aksi' perburuan antara Dracula dan Van Helsing, kecuali ‘Interview with the Vampire’ (1994).
BACA JUGA:Asal Mula Suku Kisam, Budaya dan Agamanya
Kita lihat saja, makin ke sini terasa makin ‘mainstream’ saja action fantasi di ‘universe vampire’ movie ini.
Ya, film-film ‘bertema vampir’ pada umumnya kerap menyajikan tema romansa dramatis dan aksi fantasi.
Pada awal 90-an mulai dari ‘Twilight’ saga yang menjadi pujaan setiap remaja perempuan millennial.
BACA JUGA:Wajib Diketahui! Ini Sejarah Hingga Kebudayaan Suku Batak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: