Meriam Beranak Dimandikan, Ritual Adat Memohon Turunnya Hujan

Selasa 29-09-2026,11:19 WIB
Reporter : Deka
Editor : Almi

Tengku Ali Syahbana juga menjelaskan bahwa ritual memandikan Meriam Beranak tidak otomatis dilaksanakan setiap tahun.

Pelaksanaannya menyesuaikan kebutuhan dan situasi yang berkembang di masyarakat.

“Kalau tradisi memandikan Meriam Beranak ini kan untuk memohon hujan. Jadi mungkin kurang pas jika dilakukan setiap tahun.

Kalau hujan terus kemudian timbul banjir bagaimana. Jadi tinggal menyesuaikan tradisinya saja yang bisa digelar setiap tahunnya,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Barat Samuel turut menyambut pelaksanaan ritual tersebut.

Ia menyebut tradisi itu sebagai salah satu bentuk ikhtiar masyarakat yang berpegang pada adat dan warisan leluhur.

BACA JUGA:Monumen Yogya Kembali, Saksi Perjuangan yang Menyimpan Jejak Sejarah Yogyakarta

Meski demikian, upaya penanganan karhutla tetap dilakukan pemerintah bersama petugas di lapangan melalui langkah-langkah penanggulangan bencana.

Di tengah kondisi kering dan kepungan asap, berbagai upaya tersebut bertemu pada satu harapan masyarakat: hujan segera turun sehingga kebakaran dapat dikendalikan dan kualitas udara kembali membaik.

“Semoga dengan segala upaya yang dilakukan, atas izin Tuhan serta alam berpihak dan hujan bisa segera turun,” harapnya.

Rangkaian ritual di Astana Al Nursari kemudian berakhir.

Meriam Beranak bersama pusaka kerajaan lainnya dikembalikan ke ruang penyimpanan. Bunyi bagendang perlahan berhenti, sementara doa-doa yang mengiringi prosesi pun telah selesai dipanjatkan.

BACA JUGA:Jejak Sejarah Monumen Nasional, Ikon Jakarta yang Menyimpan Semangat Kemerdekaan Indonesi

Namun, harapan masyarakat belum berhenti. Di luar bangunan bersejarah tersebut, langit masih dinantikan.

Hujan diharapkan segera datang untuk membasahi tanah, membantu meredakan karhutla, dan mengusir kabut asap yang menyelimuti wilayah Kotawaringin Barat.

Kategori :