Meriam Beranak Dimandikan, Ritual Adat Memohon Turunnya Hujan
Meriam Beranak Dimandikan, Ritual Adat Memohon Turunnya Hujan-pagaralampos-kolase
PAGARALAM POS.COM - Tabuhan bagendang menggema di kawasan Cagar Budaya Astana Al Nursari, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Sabtu (26/9/2026).
Kepulan asap yang menyelimuti kawasan tersebut menjadi latar pelaksanaan sebuah ritual adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Di kompleks peninggalan Kesultanan Kotawaringin itu, masyarakat menggelar prosesi memandikan sejumlah benda pusaka.
Salah satu pusaka yang menjadi bagian utama dalam ritual tersebut adalah Meriam Beranak.
BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Gunung Tambora, Letusan Dahsyat yang Mengubah Dunia!
Sebanyak 11 pusaka kerajaan dikeluarkan dari ruang penyimpanannya yang berada di sisi kiri Astana Al Nursari.
Benda-benda tersebut kemudian dibawa menuju tempat prosesi untuk dibersihkan melalui tata cara adat.
Meriam Beranak menjadi salah satu pusaka yang menarik perhatian.
Pusaka ini terdiri dari sebuah meriam induk berukuran sedang yang didampingi lima meriam berukuran lebih kecil, yang secara turun-temurun disebut sebagai anak meriam.
Prosesi dipimpin Gusti Samudra, putra almarhum Gusti Suseno.
Ia merupakan generasi keenam dari Pangeran Paku Sukma Negara, salah satu pewaris Astana Al Nursari.
BACA JUGA:Museum Batik Danar Hadi Solo, Menelusuri Sejarah Batik dan Warisan Budaya Indonesia
Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membersihkan benda-benda peninggalan kerajaan.
Ritual itu dilaksanakan ketika wilayah Kotawaringin Barat menghadapi kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Memandikan Meriam Beranak menjadi bagian dari ikhtiar adat masyarakat untuk memohon hujan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

