Para sesepuh adat dan juru kunci yang masih memiliki hubungan garis keturunan dengan keluarga kerajaan terlebih dahulu mengeluarkan pusaka dari ruang penyimpanan.
BACA JUGA: Gunung Tambora, Gunung Api di Sumbawa yang Pernah Mengubah Iklim Dunia
Meriam Beranak kemudian dibasuh dengan air. Sepanjang prosesi, doa-doa dipanjatkan sebagai bagian dari ritual adat.
Setelah rangkaian pembasuhan selesai, pusaka dikeringkan sebelum kembali dibungkus dengan kain kuning dan disimpan di tempat semula.
Asisten I Setda Kotawaringin Barat Tengku Ali Syahbana mengatakan ritual tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat dan ikhtiar memohon hujan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan ritual dilakukan setelah adanya arahan dari Bupati Kotawaringin Barat untuk berkomunikasi dengan kerabat serta ahli waris Astana Al Nursari.
“Secara sugesti setelah dilakukan ritual memandikan Meriam Beranak ini insyaallah akan turun hujan,” ujarnya.
BACA JUGA:Gunung Patah, Pesona Puncak Sumatera Selatan yang Menyimpan Jejak Sejarah dan Legenda
Menurut Tengku Ali Syahbana, kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang meningkatkan risiko terjadinya karhutla di wilayah Kotawaringin Barat.
Kabut asap pun mulai dirasakan di sejumlah kawasan.
Ia mengingat kembali kejadian kebakaran lahan gambut pada 2015.
Saat itu, masyarakat menghadapi situasi serupa dan berharap hujan dapat membantu memadamkan kebakaran.
“Kalau pengalaman kemarau dan kebakaran lahan gambut di tahun 2015, hanya hujan yang bisa menghentikannya,” tuturnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya dan penanganan bencana pada dasarnya merupakan dua hal yang berbeda.
Namun, dalam situasi kemarau dan karhutla, keduanya dapat berjalan beriringan karena memiliki harapan yang sama, yakni datangnya hujan.
BACA JUGA:Saksi Perjuangan yang Menyimpan Jejak Sejarah Yogyakarta