PAGARALAMPOS.COM - Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus diperkuat menjelang musim kemarau 2026. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago memimpin langsung apel kesiapsiagaan sebagai bentuk konsolidasi lintas sektor, Rabu (6/5/2026).
Apel siaga ini menjadi langkah strategis tahunan guna memastikan seluruh unsur terkait siap menghadapi potensi karhutla, dengan menitikberatkan pada pencegahan sejak dini di wilayah rawan.
“Karhutla adalah bencana yang berulang setiap tahun. Oleh karena itu, kita tidak boleh lengah. Koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah menjadi kunci agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” ujar Menko Polkam Djamari Chaniago.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan reaktivasi desk penanggulangan karhutla guna memperkuat koordinasi, sinkronisasi pengendalian, serta pemantauan di lapangan. Desk ini juga berfungsi mengevaluasi kebijakan dan penegakan hukum agar lebih optimal dalam menjaga stabilitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
BACA JUGA:Kemarau Diprediksi Lebih Ekstrem, Sumsel Siaga Darurat Karhutla hingga November 2026
BACA JUGA:Sumsel Siaga Hadapi Karhutla Dampak El Nino, Guberrnur : Ancaman Lebih Besar dari Tahun Sebelumnya
"Melalui desk ini, kita harap seluruh kementerian, lembaga, dan seluruh unsur terkait lainnya ikut menjadi bagian dalam upaya mitigasi, pencegahan penanggulangan bencana, dan evaluasi penegakan hukum," katanya.
Djamari menjelaskan bahwa Sumatera Selatan menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto karena memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama pada lahan gambut dan kawasan perkebunan.
Meski luas karhutla di Sumsel menunjukkan tren penurunan dari 15.422 hektare pada 2024 menjadi 5.339 hektare pada 2025, seluruh pihak diminta tetap disiplin dan tidak mengendurkan pengawasan.
BACA JUGA:Memmprihatikankan, Karhutla Hanguskan 5.264 Hektare Lahan di Sumsel
BACA JUGA:220 Kasus Karhutla Melanda Sumsel Sepanjang 2025
"Sumsel menjadi wilayah strategis yang perlu mendapat perhatian serius dalam pengendalian karhutla. Wilayah ini memiliki kerawanan tinggi karena lahan gambut dan mineral kering yang luas serta area perkebunan," jelasnya.
Berdasarkan data periode 1 Januari hingga 30 April 2026, luas karhutla di Sumatera Selatan tercatat 79 hektare. Capaian ini dinilai positif, namun tetap harus dijaga dengan konsistensi dan kerja keras seluruh pihak.
"Penurunan ini harus disyukuri, tapi juga tidak boleh lengah. Capaian ini harus tetap dijaga dengan kerja keras dan disiplin," pungkasnya.