Salah satu yang paling dikenal adalah ritual pemenggalan kepala dalam beberapa upacara adat mereka.
Hal ini dilakukan ketika mereka mendirikan rumah adat baru, di mana mereka membutuhkan tengkorak manusia sebagai persembahan kepada dewa.
Selain itu, pemenggalan kepala dijadikan simbol kedewasaan bagi pria Naulu.
Dahulu, seorang pemuda diwajibkan menyumbangkan satu kepala terpenggal kepada desa sebagai tanda bahwa ia telah dewasa.
Namun, praktik tersebut dilarang secara hukum setelah terjadinya tragedi kriminal pada tahun 2005 yang melibatkan tradisi ini.
Tradisi lain yang masih berlangsung adalah pengasingan wanita saat mengalami menstruasi pertama dan menjelang persalinan. Suku Naulu menyediakan sebuah bilik berukuran 2×2 meter yang disebut tikusune.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Museum Siwalima: Menyimpan Jejak Budaya dan Maritim Maluku!
Bilik ini diperuntukkan bagi perempuan yang sedang menstruasi pertama atau akan melahirkan untuk mengasingkan diri.
Biasanya, wanita yang akan melahirkan atau yang mengalami menstruasi pertama akan pergi dari keluarga dan tinggal di tikusune hingga masa menstruasi selesai atau ketika mereka melahirkan.
Setelah masa tersebut selesai, mereka akan kembali pulang dan keluarga akan merayakan kedatangan mereka kembali.