BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Bawakaraeng: Antara Keagungan Alam dan Jejak Spiritualitas!
Letusan tersebut melepaskan energi yang luar biasa besar, dengan estimasi kekuatan sekitar VEI 7 (Volcanic Explosivity Index), menjadikannya letusan paling kuat yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Letusan itu menghancurkan puncak gunung dan menciptakan kaldera raksasa dengan diameter sekitar 6-7 kilometer dan kedalaman 1.100 meter.
Suara letusan terdengar sejauh lebih dari 2.000 kilometer, bahkan sampai ke Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Awan panas, hujan abu, dan lahar menghancurkan desa-desa di sekitar gunung, termasuk Kerajaan Tambora yang lenyap seketika.
BACA JUGA:Sejarah Tari Zapin: Warisan Budaya Melayu yang Mengakar dalam Tradisi dan Religi!
Diperkirakan sekitar 10.000 orang tewas langsung akibat letusan, dan lebih dari 80.000 orang meninggal karena kelaparan, penyakit, dan dampak lingkungan setelahnya.
Total korban mencapai angka sekitar 90.000 jiwa, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan di Indonesia.
Dampak Global: Tahun Tanpa Musim Panas
Letusan Gunung Tambora memiliki dampak global yang luar biasa.
Abu vulkanik yang terlempar ke atmosfer menyebabkan penurunan suhu rata-rata bumi.
BACA JUGA:Gunung Sumantri: Menggali Kisah Pahlawan di Pegunungan Papua yang Megah
Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai "The Year Without a Summer" di belahan bumi utara, khususnya di Eropa dan Amerika Utara.
Salju turun di bulan Juni, panen gagal total, dan kelaparan melanda berbagai negara.
Kekacauan ekonomi dan sosial terjadi di berbagai wilayah karena krisis pangan.
Bahkan, beberapa sejarawan percaya bahwa kondisi ekstrem ini menginspirasi karya sastra seperti “Frankenstein” karya Mary Shelley.
BACA JUGA:Gunung Sumantri: Menggali Kisah Pahlawan di Pegunungan Papua yang Megah