Pemain kolintang menggunakan stik atau pemukul yang dilapisi karet agar suara yang dihasilkan lebih lembut dan tidak merusak permukaan kayu.
Kolintang modern terdiri dari beberapa jenis: melodi, alto, tenor, bass, dan cellos, mirip dengan pembagian instrumen dalam orkestra. Ini memungkinkan permainan kolintang menjadi lebih kompleks dan harmonis.
Pengakuan dan Pelestarian
Pada tahun 2009, kolintang secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
BACA JUGA: Rekomendasi Jalur Pendakian Gunung Gede yang Jadi Favorit Pendaki, Lihat Disini!
Pengakuan ini mendorong berbagai upaya pelestarian, mulai dari pelatihan di sekolah-sekolah, festival musik kolintang, hingga pengenalan kolintang di kancah internasional.
Di berbagai kota di Indonesia—termasuk Jakarta, Surabaya, dan Manado—komunitas kolintang aktif menggelar konser, lomba, dan workshop.
Tak hanya itu, diaspora Indonesia di luar negeri juga mulai memperkenalkan kolintang sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Kolintang di Era Digital
Memasuki era digital, kolintang mulai dilirik generasi muda sebagai alat musik yang bisa dipadukan dengan teknologi modern.
BACA JUGA:Mengungkap Jejak Sejarah dan Keindahan Pantai Toronipa, Permata Pesisir Kendari
Banyak musisi muda yang mengunggah permainan kolintang ke media sosial seperti YouTube dan Instagram, memainkan lagu-lagu pop dan internasional menggunakan kolintang.
Bahkan beberapa inovator telah mengembangkan aplikasi kolintang digital dan versi elektronik yang bisa diintegrasikan dengan perangkat komputer untuk keperluan pendidikan dan produksi musik.