Oleh karena itu, tidak semua orang bisa memainkan kolintang. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap memiliki pemahaman budaya dan spiritual yang cukup.
Namun seiring masuknya agama-agama modern dan perubahan sosial di Minahasa, fungsi sakral kolintang mulai bergeser menjadi hiburan dan ekspresi seni.
BACA JUGA:Sejarah Pulau Siladen: Dari Jejak Kapal Karam hingga Destinasi Bahari Terkemuka di Sulawesi Utara!
Alat musik ini pun mulai diajarkan kepada masyarakat umum, termasuk anak-anak di sekolah.
Perkembangan Kolintang Modern
Transformasi kolintang menjadi alat musik modern dimulai pada pertengahan abad ke-20.
Seorang tokoh penting dalam proses ini adalah Nelwan Katuuk, seorang pemusik asal Minahasa yang mengembangkan bentuk kolintang yang lebih praktis dan sesuai dengan tangga nada diatonik.
Sebelumnya, kolintang hanya menggunakan nada pentatonik (lima nada), namun setelah modifikasi, ia mampu memainkan lagu-lagu Barat dan lagu nasional Indonesia.
BACA JUGA:Pantai Toronipa: Warisan Alam dan Kearifan Lokal di Tanah Sulawesi Tenggara
Berkat inovasi tersebut, kolintang mulai dikenal secara nasional dan bahkan internasional.
Kelompok-kelompok musik kolintang bermunculan di berbagai daerah, dan kompetisi musik kolintang mulai diadakan di tingkat lokal hingga nasional.
Material dan Cara Pembuatan
Kolintang tradisional dibuat dari jenis kayu yang ringan namun padat, seperti kayu waru, kayu wenang, kayu telurtelur, dan kayu cempaka.
Kayu-kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan bunyi yang nyaring dan merdu saat dipukul.
BACA JUGA:Lezat dan Unik! Inilah Deretan Makanan Khas Papua yang Wajib Kamu Coba
Bilah-bilah kayu disusun di atas resonator (biasanya kotak kayu berlubang) dan diurutkan berdasarkan tinggi nada.