Dibalik Kekalahan Pasuruan: Strategi Cerdik Prajurit Mataram yang Mengubah Sejarah

Rabu 16-07-2025,07:56 WIB
Reporter : Elis
Editor : Almi

Panembahan Puruboyo berhasil menenangkan situasi dengan menjelaskan bahwa Joyosuponto sedang menjalankan perintah Sultan Agung.

Pada malam Jumat yang telah ditetapkan, pasukan Mataram melakukan pengepungan terhadap istana Pasuruan.

Meskipun Tumenggung Kapulungan telah mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan wilayahnya, ketakutan akibat kekalahan sebelumnya membuatnya kehilangan semangat. Ia akhirnya memilih melarikan diri menuju Surabaya, meninggalkan pasukan dan istrinya.

Dalam pelariannya, Kapulungan terjatuh dari kudanya, sehingga bekal dan perlengkapan pribadinya berserakan dan hilang.

Dalam keputusasaan dan kesendirian, ia merenungkan nasibnya yang malang tanpa kuda, makanan, dan pendamping.

BACA JUGA:Rekomendasi Wisata Pekanbaru: Menjelajahi Pesona Alam, Budaya, dan Sejarah di Ibu Kota Riau!

BACA JUGA: Jejak Sejarah Suku Zulu: Bangsa Pejuang yang Mengukir Legenda Afrika Selatan

Keesokan harinya, pasukan Mataram berhasil merebut Pasuruan. Wanita-wanita dan harta benda yang tersisa kemudian dibawa ke Mataram sebagai rampasan perang.

Sultan Agung yang menerima laporan mengenai tindakan Adipati Manduro yang hendak menerobos pagar larangan memilih untuk tidak memperpanjang masalah, karena sedang bergembira atas kemenangan pasukannya.

Namun, ketegangan politik tetap berlanjut di kalangan bangsawan Mataram. Sultan Agung mencurigai adanya hubungan keluarga antara Adipati Pajang dan Adipati Tuban yang dianggap berpotensi memicu pemberontakan.

BACA JUGA:Makna dan Sejarah Rumah Baileo sebagai Pusat Tradisi dan Identitas Maluku

BACA JUGA: Danau Satonda: Sejarah Alam dan Legenda Mistis Pulau Vulkanik yang Menawan

Joyosuponto melaporkan dugaan makar yang melibatkan surat dari Adipati Manduro kepada Adipati Pajang, yang berisi rencana pemberontakan pada waktu yang tepat.

Surat tersebut menunjukkan niat pengkhianatan, di mana Manduro berjanji akan mendukung pihak pemberontak dari belakang jika terjadi konflik dengan Sultan Mataram. Intrik politik ini menjadi bagian penting dalam sejarah setelah penaklukan Pasuruan.

Kategori :