Dari hubungan tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Caesarion, yang dipercaya sebagai anak Julius Caesar.
Cinta dan Aliansi dengan Mark Antony
Hubungan ini tak kalah terkenal dan menjadi bagian penting dari kisah cintanya yang dramatis.
Antony dan Cleopatra bukan hanya pasangan kekasih, tetapi juga sekutu politik yang kuat. Mereka bekerja sama melawan musuh-musuh politik Antony, terutama Octavianus (kelak dikenal sebagai Kaisar Augustus).
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Masurai: Jejak Vulkanik dan Kearifan Lokal di Tanah Jambi!
Pasangan ini menggabungkan kekuatan militer dan sumber daya Mesir untuk menghadapi tekanan dari Roma.
Namun, di mata rakyat Romawi dan para senator, hubungan Antony dan Cleopatra dipandang sebagai ancaman. Mereka menuduh Antony telah 'terperdaya' oleh Cleopatra dan mengkhianati kepentingan Romawi.
Propaganda terhadap Cleopatra berkembang luas, menggambarkannya sebagai penyihir dan penghasut yang menggunakan pesonanya untuk memecah belah Roma.
Pertempuran Actium dan Akhir Tragis
BACA JUGA:Polres – Pemkot Jalin Sinergi Jaga Kamtibmas Pagar Alam
Dalam pertempuran laut ini, pasukan Octavianus berhasil mengalahkan armada gabungan Antony dan Cleopatra. Keduanya kemudian mundur ke Mesir dalam keadaan terdesak.
Dalam kondisi terpojok dan menghadapi kekalahan yang tak terelakkan, Antony melakukan bunuh diri setelah menerima kabar palsu bahwa Cleopatra telah wafat.
Tak lama kemudian, Cleopatra pun mengambil jalan yang sama. Ia diyakini bunuh diri dengan membiarkan dirinya dipatuk ular kobra, simbol kerajaan Mesir, meskipun ada versi lain yang menyatakan bahwa ia menggunakan racun.
Warisan Cleopatra
BACA JUGA:Misteri Keindahan Gunung Sanggar, Puncak Tersembunyi di NTB yang Menyaingi Rinjani
Meninggalnya Cleopatra pada tahun 30 SM menandai berakhirnya era Firaun di Mesir dan menjadi titik masuk Mesir ke dalam kekuasaan Romawi.