BACA JUGA:Pesona Alam Karanganyar: 4 Destinasi Wisata yang Tak Boleh Dilewatkan
Meskipun demikian, sebagian besar tradisi lokal tetap dipertahankan dan diselaraskan dengan ajaran Islam, menciptakan bentuk budaya yang harmonis dan berakar kuat.
Kekayaan Tradisi dan Budaya Lokal
Salah satu upacara adat yang masih terus dijalankan adalah ritual Bapalas Tahun, yakni seremoni syukuran atas hasil panen dan rezeki selama setahun.
Kegiatan ini biasanya diiringi dengan pertunjukan seni tradisional seperti Tari Giring-Giring dan musik khas daerah setempat.
Suku Berau dikenal menjunjung tinggi nilai gotong royong dan menganut sistem kekerabatan patrilineal, di mana tokoh adat memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan kolektif.
Selain itu, kain tenun khas Berau menjadi salah satu lambang identitas budaya yang sarat makna, terutama saat digunakan dalam acara adat.
BACA JUGA:Warungboto: Situs Sejarah yang Terlupakan, Kini Jadi Primadona Wisata?
BACA JUGA:Nikmati Momen Indah! 5 Tempat Wisata di Sulawesi Barat yang Pas untuk Liburan Romantis dan Healing
Warisan Sejarah dan Situs Budaya
Salah satu situs peninggalan sejarah yang penting adalah Kompleks Makam Raja-Raja Sambaliung, tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting dari masa kerajaan.
Tempat ini juga menjadi lokasi ziarah dan pelestarian sejarah. Bangunan bersejarah seperti Istana Sambaliung dan Museum Batiwakkal juga menyimpan banyak artefak, mulai dari manuskrip kuno, pakaian kerajaan, hingga senjata tradisional.
Suku Berau di Era Modern
Meski berada di tengah arus perubahan sosial dan perkembangan teknologi, masyarakat Berau tetap menjaga kelestarian budayanya.
Pemerintah daerah pun aktif mendukung berbagai inisiatif pelestarian melalui program budaya yang melibatkan generasi muda.
BACA JUGA:5 Destinasi Wisata di Sulawesi Barat dengan Pemandangan Memukau untuk Healing