Sejarah Monumen Geger Cilegon: Jejak Pemberontakan Ulama dan Santri Banten!

Kamis 03-07-2025,07:02 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Serangan itu berhasil mengejutkan pemerintah kolonial karena dilakukan dengan strategi yang matang dan didukung oleh masyarakat secara luas.

BACA JUGA:Namalatu, Pantai Bersejarah di Ambon: Antara Pesona Alam dan Lunturannya Ingatan Budaya

Namun, karena keterbatasan persenjataan dan perlawanan balik dari militer kolonial yang lebih unggul, pemberontakan ini akhirnya dapat dipadamkan.

Ratusan orang tewas, termasuk banyak ulama dan tokoh masyarakat. Sebagian besar pemimpin perlawanan ditangkap dan diasingkan ke berbagai wilayah, seperti Boven Digoel dan Manado.

Pendirian Monumen Geger Cilegon

Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian dan pengorbanan para pejuang Cilegon, Pemerintah Daerah Banten mendirikan Monumen Geger Cilegon.

BACA JUGA:Tugotil: Masyarakat Adat Penjaga Hutan Halmahera di Maluku

Monumen ini berlokasi di pusat Kota Cilegon dan menjadi saksi bisu atas semangat perjuangan rakyat Banten di masa lalu.

Monumen ini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga media edukatif bagi generasi muda.

Dengan desain yang sederhana namun sarat makna, monumen ini menampilkan relief perjuangan dan nama-nama tokoh penting dalam pemberontakan.

Di sekelilingnya terdapat taman dan papan informasi yang menjelaskan kronologi peristiwa Geger Cilegon.

BACA JUGA:Pantai Namalatu: Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal di Tepian Ambon yang Terlupakan

Makna dan Warisan Budaya

Monumen Geger Cilegon bukan sekadar bangunan peringatan, tetapi cerminan dari perjuangan spiritual dan sosial masyarakat Banten.

Pemberontakan ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak selalu bersenjata, melainkan juga berbasis pada keyakinan agama dan nilai-nilai moral.

Bagi masyarakat Banten, peristiwa Geger Cilegon adalah bagian dari identitas kultural dan spiritual.

Kategori :