Lokasi monumen berada di kawasan strategis, yaitu di dekat Markas Komando Resor Militer (Korem) 161/Wira Sakti, menjadikannya tak hanya sebagai situs bersejarah, tetapi juga destinasi edukasi militer bagi masyarakat umum.
Secara fisik, monumen ini terdiri dari patung prajurit bersenjata lengkap yang berdiri tegak dengan ekspresi penuh ketegasan dan kewaspadaan.
Di belakangnya terdapat relief yang menggambarkan berbagai aktivitas TNI AD, seperti operasi militer, kegiatan sosial, dan upaya menjaga perbatasan.
Patung ini dibangun dengan detail yang kuat untuk menampilkan karakter militer yang disiplin, tangguh, dan berjiwa patriotik.
BACA JUGA:Pantai Namalatu: Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal di Tepian Ambon yang Terlupakan
Makna Filosofis
Monumen ini tidak sekadar menjadi hiasan kota atau simbol militer, tetapi menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Setiap unsur dalam desain monumen mencerminkan nilai-nilai luhur TNI AD, yakni setia kepada negara, siap mengorbankan jiwa dan raga, serta berkomitmen menjaga kedaulatan bangsa.
Nama “Dharma Yudha Mandala” mencerminkan semangat bahwa setiap jengkal tanah Indonesia adalah medan pengabdian yang harus dijaga dengan penuh kesetiaan.
BACA JUGA:Tugotil: Masyarakat Adat Penjaga Hutan Halmahera di Maluku
Selain itu, keberadaan monumen ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya cinta tanah air, semangat bela negara.
Dan arti dari perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Fungsi Sosial dan Edukatif
Tidak hanya berfungsi sebagai simbol militer, Monumen Dharma Yudha Mandala juga kerap dijadikan tempat pelaksanaan berbagai kegiatan sosial dan edukatif.
Mulai dari upacara peringatan hari besar nasional, kegiatan pelatihan bela negara untuk pelajar, hingga kunjungan wisata sejarah dari berbagai sekolah di Nusa Tenggara Timur.
BACA JUGA:Sejarah Patung Titi Banda: Simbol Kisah Legendaris Ramayana di Tanah Bali!