Dalam pertunjukannya, Debus menampilkan aksi-aksi yang menantang nyali, seperti menusukkan benda tajam ke tubuh, berjalan di atas pecahan kaca, hingga memukul diri dengan senjata tanpa terluka.
Aksi ini dilakukan oleh para pendekar yang sudah melalui pelatihan fisik dan spiritual yang ketat. Doa dan mantra menjadi bagian penting yang diyakini menjaga keselamatan mereka selama pertunjukan.
Nilai Filosofis dan Budaya
Debus mengandung nilai keberanian dan keteguhan hati, yang menjadi pelajaran moral bagi masyarakat Sunda dan Banten.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Kekuatan fisik harus didukung oleh ketenangan batin dan keyakinan spiritual yang kuat, sehingga menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya jasmani, tapi juga iman.
BACA JUGA:Sejarah Suku Baduy: Penjaga Tradisi Leluhur di Tengah Arus Modernisasi!
BACA JUGA:Sejarah Suku Osing: Menelusuri Jejak Budaya Leluhur di Ujung Timur Jawa!
Debus juga mempererat rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Biasanya pertunjukan Debus digelar dalam acara adat atau perayaan keagamaan, menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan antarwarga.
Debus di Era Modern
Di tengah kemajuan zaman, tradisi Debus menghadapi tantangan pelestarian. Minat generasi muda terhadap budaya ini menurun akibat terpikat hiburan modern dan teknologi.
Namun, sejumlah sanggar seni bela diri berupaya mengajarkan Debus sebagai bagian dari pelestarian budaya dan pembentukan karakter bangsa.
Debus kini mulai tampil dalam festival budaya tingkat nasional maupun internasional, memperkenalkan tradisi ini ke khalayak yang lebih luas.
Dukungan media sosial dan dokumentasi digital juga membantu menjangkau audiens baru sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap seni tradisional ini.