Bagi masyarakat Rejang, Bukit Kaba bukan sekadar bentang alam biasa. Gunung ini dianggap sebagai tempat yang sakral dan penuh makna spiritual.
Dalam berbagai cerita lisan, Bukit Kaba diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur atau makhluk halus penjaga alam.
Beberapa pendaki lokal bahkan melakukan ritual atau menyampaikan doa sebelum memulai perjalanan menuju puncak.
Nama "Kaba" sendiri dalam bahasa lokal bisa merujuk pada "kabar" atau pesan.
Banyak orang tua zaman dahulu yang percaya bahwa suara-suara aneh dari kawah atau perubahan cuaca ekstrem di puncak bisa menjadi pertanda atau pesan dari alam gaib.
Inilah mengapa Bukit Kaba sering disebut sebagai gunung yang "berbicara".
Catatan Sejarah dan Ekspedisi
Penjelajahan terhadap Bukit Kaba mulai tercatat secara ilmiah sejak era kolonial Belanda.
BACA JUGA:Tips Mengatasi Sakit Kepala akibat Kolesterol Tinggi: Cara Alami dan Medis untuk Meredakannya!
Pada awal abad ke-20, beberapa ahli geologi Eropa mengunjungi kawasan ini untuk mempelajari karakteristik geologinya.
Bukit Kaba menjadi salah satu titik penting dalam pemetaan jalur vulkanik Pulau Sumatra, yang kemudian dijadikan acuan dalam mitigasi bencana dan perencanaan konservasi.
Pada masa pendudukan Belanda, jalur setapak menuju Bukit Kaba mulai dibuka untuk keperluan penelitian dan eksplorasi hasil bumi, terutama sulfur (belerang) yang banyak ditemukan di sekitar kawah.
Sisa-sisa aktivitas ini masih bisa dilihat hingga kini dalam bentuk jalur batu dan bekas penambangan manual.
Potensi Wisata dan Konservasi
Dalam dekade terakhir, Bukit Kaba semakin dikenal sebagai salah satu destinasi favorit para pendaki, baik dari dalam maupun luar daerah.
Jalur pendakiannya yang relatif pendek namun menantang menjadikan gunung ini cocok bagi pemula maupun pendaki berpengalaman.