Mengulik Sejarah Asal Suku Tamiang: Warisan Budaya di Perbatasan Aceh dan Sumatera!

Rabu 18-06-2025,11:11 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Pada abad ke-16, Kerajaan Tamiang kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam. Meskipun berada di bawah hegemoni Aceh, masyarakat Tamiang tetap mempertahankan identitas budayanya yang khas.

Bahasa dan Budaya

BACA JUGA:Sejarah Mengenal Jubleg: Alat Tumbuk Padi Tradisional yang Sarat Nilai Budaya dan Kearifan Lokal!

Bahasa ini mencerminkan akar kebudayaan masyarakat Tamiang yang unik dan tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan kelompok etnis Melayu lainnya.

Dalam hal budaya, Suku Tamiang memiliki tradisi-tradisi yang kaya, seperti Upacara Tepung Tawar, yang digunakan sebagai bentuk doa keselamatan dan penolak bala dalam berbagai momen penting, seperti pernikahan, khitanan, dan pindah rumah.

Selain itu, seni musik seperti gendang beleq dan tarian khas Tamiang juga menjadi bagian penting dari ekspresi budaya masyarakat.

Peran dalam Sejarah Indonesia

Suku Tamiang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan Indonesia, terutama dalam konteks perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Wilayah Aceh Tamiang menjadi salah satu titik penting perlawanan rakyat Aceh terhadap pasukan kolonial, mengingat letaknya yang strategis sebagai pintu masuk dari pantai timur.

BACA JUGA:Sejarah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali: Dari Lapangan Terbang Sederhana Menjadi Gerbang Wisata!

Banyak tokoh lokal dari kalangan Tamiang yang turut ambil bagian dalam perang gerilya dan perjuangan kemerdekaan.

Identitas di Tengah Arus Modernisasi

Namun, sejumlah upaya pelestarian terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas budaya, seperti penyelenggaraan festival budaya Tamiang dan pembelajaran bahasa Tamiang di sekolah-sekolah lokal.

Kategori :