Pesantren menjadi tempat pelatihan kader dakwah dan pembinaan masyarakat.
Dengan pendekatan pendidikan dan sosial, mereka mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap Islam sebagai agama yang damai dan rahmatan lil ‘alamin.
Peran dalam Politik dan Sosial
Wali Songo juga tidak lepas dari peran politik.
Mereka mendukung pendirian Kesultanan Demak, yang menjadi simbol peralihan kekuasaan dari kerajaan Hindu-Buddha ke kerajaan Islam di Jawa.
Beberapa wali seperti Sunan Giri dan Sunan Kalijaga menjadi penasihat sultan atau bahkan pemimpin spiritual kerajaan.
Di bidang sosial, para wali turut serta dalam menyelesaikan konflik antar masyarakat, membantu kaum miskin, dan membina kehidupan bermasyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kepedulian sosial ini membuat ajaran Islam tidak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat.
Warisan yang Bertahan
Warisan Wali Songo masih terasa hingga kini. Banyak tradisi Islam di Jawa yang merupakan hasil adaptasi ajaran mereka.
Misalnya, tradisi selamatan, tahlilan, sekaten, dan grebeg, yang walaupun tidak berasal dari syariat murni, namun dimaknai sebagai sarana mempererat ukhuwah dan mengenang ajaran-ajaran Islam.
Selain itu, makam para wali menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi umat Islam, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara.
Ziarah ini bukan semata-mata ritual, tetapi juga penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam menyebarkan Islam dengan penuh kesabaran dan kearifan.