Dulu, seni ini digunakan dalam pertarungan antardesa atau sebagai bentuk pertahanan diri dari ancaman luar, terutama pada masa-masa ketika perbudakan dan perampokan laut masih marak terjadi.
Kontak dengan Dunia Luar dan Modernisasi
BACA JUGA:Tempat Semayam Para Dewa? Ini Alasan Gunung Sumbing Dianggap Tempat Suci dan Sakral
Sejarah Suku Nias tidak lepas dari pengaruh kolonialisme dan misi keagamaan dari Barat.
Pada abad ke-19, misionaris Jerman mulai masuk ke Pulau Nias dan membawa agama Kristen.
Hingga kini, mayoritas masyarakat Nias memeluk Kristen Protestan dan Katolik, meskipun unsur adat dan kepercayaan lokal masih bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Masa kolonial Belanda juga meninggalkan pengaruh besar, terutama dalam bentuk infrastruktur dan sistem pemerintahan modern.
Namun, dalam prosesnya, banyak pula warisan budaya yang mulai tergeser atau terlupakan akibat modernisasi dan globalisasi.
Pelestarian Budaya dan Tantangan Masa Kini
Kini, Pulau Nias menghadapi tantangan besar dalam melestarikan budaya leluhur.
Banyak generasi muda yang mulai meninggalkan adat dan bahasa daerah demi kehidupan yang lebih modern.
Meski begitu, berbagai upaya terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas budaya, untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional melalui festival, museum, dan pendidikan berbasis lokal.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Kembar: Antara Legenda, Keindahan, dan Jejak Alam!
Festival Ya’ahowu, misalnya, menjadi salah satu ajang tahunan yang tidak hanya menampilkan tarian dan budaya Nias.
tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata yang efektif untuk memperkenalkan warisan Suku Nias ke tingkat nasional dan internasional.