Setiap desa atau banua dipimpin oleh seorang kepala adat yang dipilih dari keturunan bangsawan.
Pemimpin ini tidak hanya memiliki kekuasaan administratif, tapi juga peran spiritual dalam menjaga keharmonisan antara manusia dan para leluhur.
Di samping itu, hukum adat sangat dijunjung tinggi dan menjadi dasar dalam menyelesaikan berbagai konflik.
Tradisi Megalitikum dan Kepercayaan Leluhur
Salah satu warisan terbesar Suku Nias adalah budaya megalitikum yang masih hidup hingga kini.
Tradisi mendirikan batu-batu besar atau megalit dilakukan untuk menghormati leluhur dan sebagai simbol status sosial.
Batu tersebut disusun dalam bentuk kursi batu, altar, atau monumen sebagai penanda upacara besar, seperti peresmian kepala desa, pernikahan bangsawan, atau pemakaman tokoh penting.
Kepercayaan tradisional masyarakat Nias berpusat pada penghormatan terhadap roh leluhur dan kekuatan alam.
BACA JUGA:Sejarah Museum History of Java: Menyusuri Jejak Peradaban Jawa!
Mereka percaya bahwa jiwa orang yang telah meninggal akan tetap mengawasi kehidupan keturunannya.
Oleh karena itu, berbagai ritual dan persembahan dilakukan untuk menjaga keseimbangan dan mendapat berkah dari para leluhur.
Lompat Batu dan Seni Bela Diri
Salah satu simbol budaya Nias yang paling terkenal adalah tradisi fahombo atau lompat batu.
Kegiatan ini dilakukan oleh pemuda yang hendak memasuki usia dewasa sebagai bentuk pembuktian kekuatan, keberanian, dan kedewasaan.
Batu yang dilompati biasanya setinggi dua meter dan dilengkapi dengan rintangan tajam di atasnya.
Selain itu, Suku Nias juga memiliki seni bela diri tradisional yang disebut moge atau faluaya.