BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Jembatan Kanopi Bangkirai di Kawasan Wisata Alam Bangkirai Hill
Sistem pertanian yang mereka gunakan sebagian besar masih tradisional, terutama dengan sistem ladang berpindah.
Hutan bagi mereka bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga tempat sakral yang dipercaya dihuni oleh roh-roh leluhur.
Kepercayaan dan Upacara Adat
Sebelum pengaruh luar masuk, Suku Katingan menganut kepercayaan Kaharingan, yakni sistem kepercayaan asli Dayak yang berakar pada penghormatan terhadap leluhur dan alam.
Kaharingan kemudian diakui secara resmi sebagai bagian dari agama Hindu di Indonesia, dengan identitas lokalnya yang tetap kuat.
Salah satu upacara terpenting dalam budaya Katingan adalah Tiwah, sebuah ritual besar untuk mengantar roh orang yang telah meninggal menuju alam baka.
Upacara ini melibatkan prosesi adat, tari-tarian, musik tradisional, hingga penyembelihan hewan korban sebagai bentuk penghormatan.
Tiwah bukan hanya simbol spiritualitas, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan sosial antaranggota komunitas.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Jembatan Barelang: Simbol Kemajuan Batam yang Mendunia!
Masa Kolonial dan Perubahan Sosial
Selama masa penjajahan Belanda, wilayah Katingan menjadi salah satu daerah yang cukup sulit dijangkau oleh pemerintah kolonial karena letaknya yang terpencil dan akses yang terbatas.
Namun, pada masa itu pula terjadi berbagai perubahan sosial.
Pemerintah kolonial mulai memperkenalkan sistem administrasi modern dan mendirikan sekolah-sekolah dasar yang mengubah cara hidup masyarakat Katingan secara perlahan.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, modernisasi terus berkembang.
Pengaruh dari luar seperti agama Kristen dan Islam mulai menyebar, menggantikan atau berdampingan dengan kepercayaan Kaharingan.