Tinggi benteng bervariasi antara 1 hingga 4 meter, dengan tebal mencapai 2 meter di beberapa bagian.
BACA JUGA:Sejarah Rumah Adat Baloy: Warisan Budaya Suku Tidung di Kalimantan Utara!
Di dalam kompleks benteng terdapat berbagai elemen penting seperti masjid, istana kesultanan, rumah adat, dan balai musyawarah (baruga).
Benteng ini juga dilengkapi 12 pintu gerbang (lawa) yang masing-masing memiliki nama dan fungsi strategis.
Selain itu, terdapat pula 16 bastion (baluara) sebagai titik pengintaian dan pertahanan, yang menunjukkan betapa terorganisirnya sistem militer Kesultanan Buton pada masa itu.
Fungsi dan Peran Sosial
Benteng Wolio tidak hanya berperan sebagai pusat pertahanan militer.
Dalam tatanan masyarakat Buton, benteng ini adalah pusat pemerintahan, kegiatan keagamaan, dan pendidikan. Di dalamnya hidup para bangsawan, ulama, dan tokoh-tokoh adat.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Tari Ratoeh Jaroe: Harmoni Gerak dari Tanah Rencong!
Bahkan, benteng ini juga menjadi tempat berlangsungnya ritual adat dan penyusunan undang-undang kesultanan yang dikenal dengan Martabat Tujuh, sebuah sistem hukum adat yang sangat maju pada zamannya.
Keberadaan benteng turut mencerminkan struktur sosial masyarakat Buton yang berjenjang dan berlapis.
Setiap kelompok masyarakat memiliki peran tertentu dan tata letak permukiman di dalam benteng diatur berdasarkan status sosial mereka.
Peran Strategis dalam Sejarah Nusantara
Secara geografis, lokasi Benteng Wolio sangat strategis karena berada di jalur pelayaran antara wilayah barat dan timur Nusantara.
Tak heran bila Kesultanan Buton menjadi salah satu kekuatan maritim penting yang memiliki pengaruh besar di wilayah perairan Indonesia timur.
BACA JUGA:Harmoni dengan Alam: Kearifan Lokal Suku Ammatoa dalam Menjaga Warisan Leluhur