Menelusuri Sejarah Tugu Biawak Wonosobo: Simbol Perlawanan dan Identitas Lokal!

Jumat 23-05-2025,09:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Sifat-sifat inilah yang dianggap merepresentasikan karakter rakyat Wonosobo saat menghadapi penjajahan.

Simbol Perlawanan Rakyat

Tugu Biawak tidak hanya dibangun sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai simbol perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan kolonial.

Ada kisah heroik mengenai para petani dan pemuda setempat yang melakukan gerilya di lereng-lereng pegunungan sekitar Wonosobo.

Mereka menggunakan jalur-jalur kecil dan hutan sebagai tempat persembunyian, persis seperti cara biawak bertahan hidup di alam liar.

BACA JUGA:Sejarah Danau Suoh: Jejak Geologi, Legenda, dan Pesona Alam dari Tanah Lampung!

Konon, dalam salah satu pertempuran melawan pasukan Belanda, para pejuang menggunakan taktik licik dan strategi gerilya yang membuat musuh kebingungan.

Dalam cerita itu, para pejuang diibaratkan sebagai “biawak-biawak gunung” yang tak bisa diprediksi gerakannya. Kisah tersebut menjadi inspirasi utama bagi pembangunan tugu ini setelah Indonesia merdeka.

Proses Pendirian Tugu

Tugu Biawak mulai dibangun pada era 1950-an, tidak lama setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya.

Masyarakat setempat bersama pemerintah desa dan tokoh budaya bergotong royong membangun tugu ini sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang yang telah gugur.

BACA JUGA:Sejarah Benteng Koto Gadang: Jejak Kolonial dan Perjuangan di Tanah Minangkabau!

Tugu ini dibuat dari bahan batu dan semen, dengan patung biawak yang dibuat secara manual oleh seniman lokal.

Meski tidak megah seperti monumen nasional, Tugu Biawak memiliki nilai sejarah dan kultural yang sangat tinggi.

Bagi masyarakat Kertek dan sekitarnya, tugu ini adalah pengingat akan keberanian leluhur serta semangat untuk tidak tunduk pada ketidakadilan.

Makna Filosofis

Kategori :