BACA JUGA:Sejarah Danau Rawa Pening: Menyelami Asal Usul, Keunikan Ekosistem, dan Peran Budaya Danau Alami!
Monumen Pattimura diresmikan pada 2 Mei 1973, bertepatan dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Lokasinya strategis, yaitu di Lapangan Pattimura, tidak jauh dari pusat pemerintahan dan tempat bersejarah lainnya.
Monumen ini menggambarkan Pattimura dalam posisi siap bertempur, memegang parang di tangan kanan simbol perlawanan bersenjata dan buku atau naskah di tangan kiri simbol pengetahuan dan keadilan.
Perpaduan dua elemen ini menyiratkan bahwa perjuangan sejati tidak hanya dilakukan dengan kekuatan fisik, tetapi juga dengan kecerdasan dan moralitas.
Monumen ini berdiri di atas pondasi berbentuk segi delapan, yang melambangkan arah mata angin dan menunjukkan bahwa semangat perjuangan Pattimura menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Makna Simbolis dalam Kehidupan Masyarakat
Ia adalah pengingat abadi akan keberanian, kesetiaan pada tanah air, dan semangat melawan ketidakadilan.
Patung ini juga menjadi tempat yang sakral untuk peringatan Hari Pattimura, yang diperingati setiap 15 Mei, hari ketika Pattimura dan pasukannya menyerang Benteng Duurstede.
Perayaan tersebut diwarnai dengan upacara adat, ziarah ke makam para pejuang, serta kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat lintas generasi.
Dalam momen itu, Monumen Pattimura menjadi pusat perayaan sekaligus sumber inspirasi bagi anak muda Maluku untuk terus mencintai tanah air.
Monumen dalam Perspektif Nasional
BACA JUGA:Sejarah Benteng Willem II: Jejak Kolonial dan Perjuangan Kemerdekaan di Kota Ambarawa!
Sejak saat itu, kisahnya diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia dan namanya diabadikan dalam berbagai bentuk penghargaan nasional termasuk uang kertas pecahan Rp1.000 keluaran lama.
Monumen Pattimura di Ambon menjadi bagian dari identitas sejarah bangsa Indonesia, sekaligus pengingat bahwa perjuangan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di ujung timur nusantara.