Namun, di balik semangat pembaruan itu, reformasi juga membawa luka yang belum sepenuhnya sembuh hingga kini.
Kekristenan terpecah bukan hanya dalam doktrin, tapi juga dalam hati umatnya.
Sekat-sekat denominasi menjadi tembok yang kadang lebih tinggi daripada jembatan persaudaraan yang diimpikan Kristus.
Di satu sisi, reformasi membebaskan.
BACA JUGA:Gunung Boklorobubuh: Jejak Sejarah dan Misteri di Balik Kabut Pegunungan Mojokerto!
Di sisi lain, ia juga meninggalkan warisan konflik dan perpecahan yang berakar panjang.
Martin Luther sendiri tidak pernah membayangkan bahwa protesnya akan melahirkan ribuan denominasi yang kadang berselisih lebih tajam daripada dengan agama lain.
Ia hanya ingin kembali pada esensi iman, pada kepercayaan akan kasih karunia. Tetapi sejarah memiliki cara sendiri dalam menafsirkan niat baik.
Apa yang lahir dari semangat pemurnian iman, berkembang menjadi peta keragaman yang sulit dipetakan satu warna.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Galunggung: Jejak Letusan dan Kehidupan di Sekitarnya!
Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa reformasi membawa napas segar dalam kekristenan.
Ia membuka ruang dialog, memberi kesempatan kepada jemaat untuk berpikir kritis, dan memaknai ulang relasi mereka dengan Tuhan.
Dunia yang berubah menuntut iman yang hidup, bukan iman yang membeku dalam doktrin semata.
Dan di sinilah letak nilai reformasi yang tetap relevan: bukan sebagai simbol perpecahan, tetapi sebagai pintu menuju iman yang terus diperbarui.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Cikuray: Menelusuri Jejak Alam dan Budaya di Tanah Priangan!
Kini, gereja-gereja dari berbagai denominasi mulai menyadari pentingnya kesatuan dalam keberagaman.