PAGARALAMPOS.COM - Perang Balkan menjadi cermin kelam dari gejolak identitas yang memuncak di penghujung abad ke-20.
Ketika Yugoslavia runtuh, dunia menyaksikan bagaimana nasionalisme yang meledak-ledak mampu mengoyak kesatuan yang sebelumnya tampak solid.
Negara yang dulunya menjadi simbol persatuan di tengah perbedaan etnis, agama, dan budaya itu luluh lantak oleh ambisi politik dan semangat primordial.
Di balik bendera, lagu kebangsaan, dan deklarasi merdeka, ada luka-luka mendalam yang tak mudah disembuhkan.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Iliwerung: Antara Gejolak Alam dan Kehidupan Masyarakat Lembata!
Yugoslavia adalah proyek besar yang lahir dari Perang Dunia I dan II, menyatukan bangsa-bangsa Slavia Selatan di bawah satu atap federal.
Pada awalnya, semangat persatuan itu berhasil memayungi berbagai identitas—Serbia, Kroasia, Bosnia, Slovenia, Montenegro, dan Makedonia.
Namun, benih-benih perpecahan sudah lama tertanam dalam tanah yang tidak pernah benar-benar damai.
Ketika kekuasaan komunis mulai melemah dan pemimpin kuat seperti Josip Broz Tito wafat, kekacauan tak terelakkan.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Wanggameti: Jejak Alam dan Budaya di Puncak Tertinggi Sumba!
Otoritas pusat kehilangan kendali atas daerah-daerah yang semakin ingin berdiri sendiri.
Nasionalisme menjadi bara dalam sekam yang akhirnya menyala saat struktur federal mulai rapuh.
Masing-masing negara bagian merasa berhak menentukan masa depannya tanpa intervensi pusat Namun, impian untuk merdeka tidak datang tanpa harga mahal.
Perang pecah di berbagai front—dari hutan Kroasia, perbukitan Bosnia, hingga jalanan Kosovo.
BACA JUGA:Mengenal Misteri dan Sejarah Gunung Batusungkur: Warisan Alam dan Legenda di Tanah Minangkabau!