Dari Persatuan ke Perpecahan Inilah Tragedi Berdarah Pecahnya Yugoslaviam

Sabtu 17-05-2025,22:07 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Gelang

Perjuangan bersenjata menjadi alat utama dalam menuntut kedaulatan, tetapi juga menjadi mesin pemusnah kehidupan dan kemanusiaan. 

Ribuan orang tewas, jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal, dan luka psikologis membekas hingga generasi berikutnya.

Konflik terbesar terjadi di Bosnia dan Herzegovina, di mana tiga kelompok etnis—Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks, dan Kroasia Katolik—terlibat dalam perang saudara yang brutal.

Tidak hanya senjata yang berbicara, propaganda dan kebencian pun menyebar melalui media, memperuncing perpecahan yang sudah ada. 

BACA JUGA:Mengenal Sejarah Gunung Puntang di Cimaung: Jejak Peradaban dan Misteri yang Tersembunyi!

Genosida di Srebrenica menjadi simbol kelam dari kekejaman perang ini, menunjukkan bahwa peradaban bisa runtuh ketika rasa kebersamaan digantikan oleh kebencian. 

Dunia internasional lambat merespons, dan ketika akhirnya bertindak, luka sudah terlalu dalam untuk segera disembuhkan.

Pecahnya Yugoslavia bukan sekadar kisah politik dan militer, tetapi juga kisah tentang kegagalan manusia untuk hidup berdampingan dalam perbedaan. 

Ketika rasa bangga terhadap identitas berubah menjadi alat kekuasaan, maka yang terjadi adalah penghancuran, bukan kemajuan. 

BACA JUGA:Sejarah Keajaiban Batu Macan di Gunung Padang: Antara Mitos, Arkeologi, dan Warisan Budaya Sunda!

Perang Balkan menjadi pelajaran bahwa nasionalisme tanpa toleransi hanya akan membawa kehancuran. 

Sementara negara-negara pecahan Yugoslavia kini berdiri sendiri, bayang-bayang masa lalu terus menghantui perjalanan mereka menuju rekonsiliasi. 

Membangun kembali kepercayaan menjadi tantangan terbesar setelah runtuhnya tembok-tembok persaudaraan.

Kategori :