Di dalam kompleks benteng, terdapat berbagai bangunan utama yang terpisah sesuai dengan arah mata angin.
BACA JUGA:Mengenal Jejak Sejarah Berdirinya Museum Kereta Api Ambarawa
Selain itu, Benteng Pendem Ambarawa memiliki banyak jendela dan tidak dibangun dengan bastion, karena tujuannya lebih sebagai barak militer dan gudang logistik, bukan sebagai benteng pertahanan.
Saat ini, sejumlah bagian dari bangunan masih terjaga dalam kondisi aslinya.
Namun, ada juga beberapa bagian yang telah dimodifikasi, baik untuk penyesuaian fungsi maupun akibat faktor alam.
Umumnya, benteng dibangun untuk melindungi dari serangan musuh.
Namun, Benteng Pendem Ambarawa berbeda, karena daya tampungnya mencapai 12. 000 tentara.
Ini terlihat dari desain bangunannya yang banyak jendela, menandakan bahwa fungsi utamanya adalah sebagai barak militer, penjara, dan gudang untuk berbagai kebutuhan logistik, seperti senjata, kendaraan berat, dan pasokan makanan.
BACA JUGA:Mengulik Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Penjaga Perbatasan Indonesia yang Kokoh
Di samping itu, Benteng Pendem Ambarawa tidak dilengkapi fasilitas yang berfungsi sebagai perisai atau tempat meriam.
Selama masa penjajahan Jepang, benteng ini digunakan sebagai tempat penahanan bagi orang-orang Belanda dan penduduk yang dicurigai menentang pemerintahan Jepang.
Sepanjang sejarahnya, banyak perlakuan kejam yang dialami para tahanan, menyebabkan banyak dari mereka meninggal di penjara ini.
Akibatnya, banyak cerita menyeramkan beredar tentang Benteng Pendem Ambarawa hingga saat ini.
Salah satu tokoh yang pernah ditahan di benteng ini adalah pejuang dan ulama, Kiai Mahfud Salam.
Ia tinggal di salah satu blok di Benteng Pendem Ambarawa sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di luar kompleks benteng.
Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, benteng ini berfungsi sebagai markas militer untuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).