Batu-batu besar disusun secara tradisional tanpa menggunakan semen, tetapi mampu membentuk struktur pertahanan yang kuat.
Di dalam benteng terdapat ruangan-ruangan kecil, celah pengintai, dan batu-batu yang diyakini digunakan untuk keperluan upacara adat.
Benteng ini menjadi saksi bisu berbagai pertempuran, baik antar suku maupun perlawanan terhadap penjajahan.
Pada masa kolonial Belanda, daerah ini termasuk salah satu titik rawan konflik karena kedekatannya dengan wilayah koloni Portugis di Timor Timur.
BACA JUGA:Menyelami Makna Sakral di Balik Pernikahan Adat Suku Tolaki
Tidak jarang, benteng ini dijadikan tempat perlindungan saat terjadi pertempuran atau gangguan keamanan.
Peran Strategis dalam Konflik Perbatasan
Pasca kemerdekaan Indonesia, Benteng Makes tetap memiliki peran penting.
Khususnya saat Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia pada akhir tahun 1990-an, wilayah perbatasan seperti Lamaknen menjadi titik rawan.
enteng Makes kembali menjadi tempat strategis dalam mengawasi pergerakan di perbatasan dan menjadi pos pengamatan tidak resmi bagi masyarakat dan aparat keamanan.
BACA JUGA:Sejarah dan Makna Ritual Rambu Solo: Warisan Adat Pemakaman Masyarakat Toraja!
Masyarakat setempat juga menggunakan kawasan sekitar benteng sebagai tempat pelaksanaan ritual adat untuk meminta perlindungan leluhur, terutama saat situasi keamanan sedang tidak menentu.
Ini menunjukkan bahwa Benteng Makes tidak hanya penting secara militer, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan budaya yang mendalam bagi warga lokal.
Warisan Budaya yang Terlupakan?
Sayangnya, meskipun memiliki nilai historis yang tinggi, Benteng Makes belum sepenuhnya mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun lembaga pelestarian budaya.
BACA JUGA:Dentuman Meriam Menggema Serangan Umum 1 Maret yang Mengguncang Dunia