Candi ini terbuat dari batu andesit dan memiliki denah persegi berukuran sekitar 6 x 6 meter.
Pada bagian tengah candi, terdapat lapisan fondasi bertingkat yang kemungkinan besar menjadi dasar untuk menempatkan arca atau simbol keagamaan.
Tidak ditemukan relief atau ukiran rumit seperti pada candi-candi besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Hal ini menandakan bahwa Candi Bojongmenje dibangun dengan gaya sederhana, namun tetap memiliki nilai simbolik yang kuat dalam konteks budaya dan spiritual masyarakat pada masa itu.
Perkiraan Usia Candi
BACA JUGA:Ada Misteri Horor Apa Sebelum Terlahirnya Bioskop Empire XXI Yogyakarta? Simak Ceritanya!
Salah satu aspek yang menarik dari Candi Bojongmenje adalah usianya.
Berdasarkan analisis arkeologis dan karbon radioaktif dari sampel arang yang ditemukan di sekitar lokasi, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-7 atau ke-8 Masehi.
Temuan ini cukup penting karena memberikan gambaran bahwa wilayah Priangan sudah mengalami pengaruh agama Hindu lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.
Keberadaan candi ini juga menjadi bukti bahwa peradaban di tatar Sunda pada masa lalu telah mengenal sistem keagamaan, arsitektur, serta tata ruang yang terorganisir.
Fungsi dan Peran Sosial
BACA JUGA:Jerman, Italia, Jepang Bersatu! Begini Awal Mula Poros Nazi Menguasai Dunia
Meskipun tidak ditemukan arca atau prasasti secara utuh, namun struktur dan letaknya mengindikasikan bahwa bangunan ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat sekitar.
Biasanya, candi-candi kecil seperti ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kompleks pemujaan atau pusat kegiatan religius yang lebih luas.
Selain sebagai tempat ibadah, candi juga bisa berfungsi sebagai penanda wilayah kekuasaan atau simbol status sosial.
Dalam konteks masyarakat Sunda kuna, pembangunan candi bisa jadi merupakan bagian dari upaya memperkuat legitimasi kekuasaan seorang raja atau kepala daerah.