Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam: apa yang mendorong masyarakat secerdas dan seterorganisir itu untuk meninggalkan semua pencapaian mereka?
Sebagian kalangan ilmuwan menduga bahwa faktor lingkungan menjadi pemicu utama kemunduran peradaban ini.
Bukti dari endapan tanah dan analisis iklim menunjukkan bahwa kawasan yang dihuni bangsa Maya mengalami musim kekeringan ekstrem yang berkepanjangan.
Kekeringan ini menyebabkan tanah kehilangan kesuburannya, sumber air mengering, dan hasil panen pun menurun drastis.
BACA JUGA:Sejarah Taman Wisata Punti Kayu dan Keberadaan Hantu: Misteri di Balik Keindahan Alam Palembang!
Dalam masyarakat yang sangat bergantung pada pertanian, situasi semacam ini bisa memicu krisis pangan, kerusuhan, hingga hancurnya tatanan sosial dan pemerintahan.
Di samping itu, konflik antarkelompok dan perang antar kota juga diyakini menjadi faktor pemecah.
Para pemimpin yang bersaing memperebutkan kekuasaan menciptakan ketidakstabilan politik, yang pada akhirnya merusak struktur masyarakat secara keseluruhan.
Ketika kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya hilang, perpecahan pun tak terhindarkan.
BACA JUGA:Fakta atau Mitos? Jejak Misteri dan Keindahan Arsitektur Kolonial di Pabrik Gula Tua
Namun, selain penjelasan ilmiah, beredar pula teori-teori alternatif yang lebih spekulatif dan sering kali terdengar fantastis.
Ada anggapan bahwa Suku Maya memiliki koneksi dengan makhluk dari luar angkasa.
Menurut penganut teori ini, kemajuan teknologi dan pengetahuan astronomi mereka dianggap terlalu luar biasa untuk ukuran peradaban masa lalu, sehingga diduga merupakan hasil campur tangan makhluk luar bumi.
Bahkan, ada klaim bahwa bangsa Maya tidak lenyap, melainkan "diambil kembali" oleh entitas asing setelah menyelesaikan misi di bumi.
BACA JUGA:Sejarah Rumah Bosscha: Pusat Astronomi Indonesia yang Mengungkap Misteri Alam Semesta!
Meskipun teori ini sulit dibuktikan secara ilmiah dan kerap dipandang sebelah mata, ia tetap menjadi bagian dari daya tarik misteri yang menyelubungi bangsa ini.