PAGARALAMPOS.COM - Masjid Seribu Tiang merupakan salah satu bangunan ikonik yang tidak hanya dikenal karena nilai arsitekturnya yang unik, tetapi juga karena kekayaan sejarah dan budaya yang melingkupinya.
Terletak di Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara, masjid ini telah menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat dan daya tarik bagi para wisatawan religi maupun pencinta sejarah.
Awal Pendirian dan Latar Belakang Sejarah
Masjid Seribu Tiang, yang memiliki nama resmi Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, dibangun pada tahun 1960-an.
BACA JUGA:Tak Disangka! Mengungkap Sejarah Bukit Jipang Curup Jejak Perjuangan dan Budaya Rejang
Pendirian masjid ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar masyarakat Melayu dan tokoh-tokoh agama di Tanjung Balai yang menginginkan hadirnya sebuah pusat ibadah yang besar, megah, dan mencerminkan kejayaan Islam di daerah tersebut.
Meski disebut "Masjid Seribu Tiang", jumlah tiang sebenarnya tidak mencapai seribu.
Penyebutan itu lebih bersifat simbolis, mencerminkan kemegahan dan jumlah tiang yang memang sangat banyak, hingga memberi kesan seolah-olah tiangnya tidak terhitung.
Tiang-tiang tersebut tersusun rapi mengelilingi dan menopang bangunan masjid, menciptakan suasana yang kokoh namun tetap anggun.
Arsitektur dan Desain Unik
BACA JUGA:Mengungkap Asal Usul Curup Rejang Lebong! Antara Mitos Budaya dan Fakta Sejarah
Ciri khas utama dari Masjid Seribu Tiang adalah jumlah tiangnya yang sangat mencolok. Tiang-tiang besar yang menopang struktur bangunan utama memberi nuansa monumental.
Gaya arsitektur masjid ini memadukan unsur Timur Tengah dan Melayu yang kuat, terlihat dari bentuk kubah, menara, serta ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi dinding-dinding dalam masjid.
Kubah besar berwarna hijau menjadi pusat perhatian, dikelilingi oleh menara-menara kecil yang menjulang tinggi.
Pada bagian dalam masjid, langit-langitnya tinggi dan dihiasi ukiran serta kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an.