Perbedaan pandangan ini menimbulkan konflik internal yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk memecah belah kekuatan Kesultanan dari dalam.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Pulau Penyengat: Jejak Peradaban Melayu di Kepulauan Riau!
Dengan sokongan penuh dari VOC, Sultan Haji berhasil menggulingkan ayahnya dan menyepakati perjanjian-perjanjian yang justru melemahkan kedaulatan Banten, seperti pemberian hak dagang eksklusif dan penguasaan wilayah kepada Belanda.
Puncak dari krisis ini terjadi ketika Sultan Ageng Tirtayasa melancarkan perlawanan terbuka terhadap VOC dan pasukan Sultan Haji. Bentrokan bersenjata terjadi di berbagai lokasi penting, termasuk pusat pemerintahan dan pelabuhan utama.
Meski memperoleh dukungan dari sebagian bangsawan dan rakyat yang masih setia, perjuangan Sultan Ageng semakin sulit karena terbatasnya persenjataan serta pengkhianatan yang terjadi.
Pada tahun 1683, perjuangannya harus terhenti setelah ia berhasil ditangkap oleh pasukan VOC dan kemudian dipenjara.
BACA JUGA:Sejarah Gerwani: Perjuangan Emansipasi Perempuan yang Dihapus oleh Tragedi 1965!
Peristiwa ini menjadi akhir dari perlawanan besar Kesultanan Banten terhadap kolonialisme Belanda, sekaligus membuka jalan bagi VOC untuk memperluas kendali di wilayah barat Jawa.
Meski secara militer kalah, perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa tetap dikenang sebagai lambang keteguhan melawan penindasan.
Dalam narasi besar sejarah Indonesia, Perang Banten bukan sekadar konflik lokal antara penguasa dan penjajah, melainkan bagian dari denyut awal perjuangan menuju kemerdekaan yang patut terus dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.