Sejarah yang Terlupakan, Perang Banten dan Kejatuhan Kedaulatan Nusantara

Kamis 24-04-2025,09:43 WIB
Reporter : POY
Editor : Almi

PAGARALAMPOS.COM- Perang Banten menempati posisi penting dalam mozaik sejarah perjuangan rakyat Nusantara melawan dominasi kekuatan asing, terutama Belanda.

Konflik ini menjadi cermin semangat patriotik masyarakat Banten dalam mempertahankan hak atas tanah airnya dari tangan penjajah.

Di masa kejayaannya pada abad ke-16 hingga 17, Kesultanan Banten dikenal luas sebagai kerajaan maritim Islam yang berpengaruh, sekaligus pusat perdagangan yang sibuk dan strategis.

Letaknya di ujung barat Pulau Jawa menjadikan Banten sebagai jalur vital dalam perdagangan internasional, menghubungkan Asia dengan Eropa.

BACA JUGA:Sejarah Mengenal Makam Bundo Kanduang: Jejak Perempuan Agung dalam Adat Minangkabau!

BACA JUGA:Mengungkap Legenda dan Kepahlawanan: Sejarah Tari Tambun dan Bungai Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah!

Keunggulan geografis inilah yang membuat wilayah ini menjadi sasaran utama bangsa-bangsa Eropa,

termasuk Belanda yang datang melalui perusahaan dagang mereka, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), dengan ambisi besar untuk menguasai jalur rempah-rempah serta memperluas pengaruh kolonial.

VOC melihat potensi besar Banten, namun upaya penguasaan tidak berlangsung mudah. Perlawanan sengit datang dari para sultan dan rakyat Banten yang tidak rela tanah mereka dikuasai.

Salah satu tokoh sentral dalam perjuangan ini adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Banten menunjukkan sikap tegas terhadap VOC, terutama dalam hal monopoli dagang yang merugikan rakyat.

BACA JUGA:Sejarah Jembatan Teluk Kendari: Simbol Kemajuan Infrastruktur di Sulawesi Tenggara!

BACA JUGA:Mengulik Sejarah MULO: Jejak Pendidikan Masa Kolonial di Indonesia!

Ia memperkuat barisan pertahanan, memperluas jaringan diplomatik dan militer, serta menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Mataram dan beberapa kekuatan di Sumatera.

Semua itu dilakukan demi menjaga kedaulatan Banten dari pengaruh asing. Namun, badai politik datang dari dalam.

Ketika Sultan Haji putra Sultan Ageng mengambil pendekatan berbeda, ketegangan mulai mencuat. Ia lebih memilih menjalin hubungan pragmatis dengan VOC sebagai cara mempertahankan klaim atas tahta.

Kategori :