Namun, perlahan namun pasti, keindahan pantai ini mulai menyebar dari mulut ke mulut dan media sosial.
Tebing-tebing tinggi yang mengelilingi pantai memberikan suasana dramatis yang cocok untuk fotografi.
Selain itu, keberadaan “jacuzzi alami” cekungan kecil di batu karang yang tergenang air laut – menjadi daya tarik unik yang membuat pantai ini semakin viral.
Namun, meskipun semakin populer, warga sekitar dan pemerintah daerah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian lingkungan serta budaya.
BACA JUGA:Kerinci yang Tak Terucap, Sejarah Terpendam dari Puncak Barat Indonesia
Aktivitas keagamaan tetap dijaga, dan area pura tetap dihormati oleh pengunjung.
Peran dalam Sejarah Lokal
Dalam sejarah lokal, wilayah Jimbaran, termasuk Tegal Wangi, memiliki peran penting dalam aktivitas agraris dan ritual keagamaan masyarakat Bali selatan.
Banyak kisah tutur menyebutkan bahwa kawasan ini dahulu merupakan tempat pertapaan para resi dan tokoh spiritual Bali.
Pantai ini juga diyakini sebagai salah satu titik tempat masyarakat Bali melakukan penyebaran abu jenazah dalam upacara ngaben, sebuah tradisi kremasi suci yang melambangkan pelepasan roh menuju alam berikutnya.
Karena lokasinya yang sunyi dan aura spiritual yang kuat, Tegal Wangi menjadi lokasi yang dianggap cocok untuk prosesi sakral ini.
BACA JUGA:Menembus Kabut Gunung Agung, Puncak Suci yang Menyimpan Rahasia Alam
Tantangan dan Pelestarian
Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, Pantai Tegal Wangi menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alamnya.
Sampah yang ditinggalkan pengunjung serta potensi kerusakan ekosistem karang menjadi perhatian utama.
Oleh karena itu, berbagai komunitas lokal dan pecinta lingkungan mulai melakukan gerakan untuk membersihkan pantai secara rutin dan memberikan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya menjaga alam.