Di tengah kaldera tersebut, terdapat beberapa kerucut gunung api baru, salah satunya adalah Gunung Bromo yang masih aktif hingga kini.
Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut dan diameter kawah sekitar 800 meter dengan kedalaman mencapai 200 meter.
Letusan pertama yang tercatat secara ilmiah terjadi pada abad ke-19. Sejak saat itu, Bromo telah mengalami beberapa kali erupsi kecil hingga sedang.
Erupsi-erupsi ini biasanya tidak terlalu eksplosif namun tetap berdampak pada lingkungan sekitar, seperti hujan abu dan gangguan aktivitas masyarakat.
BACA JUGA:Menyikapi Kisah Sejarah Benteng Tolukko: Jejak Pertahanan di Pusat Rempah Maluku!
Pemerintah dan Badan Geologi Indonesia kini terus memantau aktivitasnya dengan sistem pemantauan modern untuk mengurangi risiko bencana.
Bromo di Mata Kolonial
Pada masa kolonial Belanda, kawasan Bromo sudah dikenal oleh penjelajah dan peneliti Eropa sebagai daerah yang unik dan menarik.
Banyak catatan ekspedisi dari masa itu yang menggambarkan keindahan alam Bromo serta budaya lokal masyarakat Tengger.
Bahkan, pada awal abad ke-20, kawasan ini mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata. Jalan akses ke Bromo mulai dibuka, dan penginapan-penginapan sederhana mulai berdiri di kaki gunung, terutama di desa Cemoro Lawang.
BACA JUGA:Kisah Sejarah Kerajaan Banjar: Jejak Peradaban di Tanah Kalimantan!
Salah satu tokoh Belanda yang berperan penting dalam dokumentasi Bromo adalah fotografer dan penulis Henri Maclaine Pont, yang banyak menulis tentang arsitektur dan budaya lokal di Jawa, termasuk daerah Tengger.
Ia terpesona oleh tradisi masyarakat sekitar gunung dan mengabadikannya dalam tulisan dan gambar yang kini menjadi bagian penting dari arsip sejarah kolonial Indonesia.
Peran dalam Budaya dan Pariwisata
Di era modern, Gunung Bromo telah menjadi magnet wisata nasional dan internasional.
Ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri datang setiap tahunnya untuk menyaksikan matahari terbit dari puncak Penanjakan dengan latar belakang kawah Bromo yang megah dan Gunung Semeru di kejauhan.