Sejarah Tari Bedhaya dan Serimpi: Jejak Luhur Tarian Keraton Jawa!

Minggu 13-04-2025,23:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

PAGARALAMPOS.COM - Indonesia, khususnya Pulau Jawa, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk dalam seni pertunjukan tradisional.

Di antara berbagai bentuk tarian klasik Jawa, Tari Bedhaya dan Tari Serimpi menempati posisi istimewa karena tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai simbol sakral, spiritual, dan politik dalam tradisi keraton.

Keduanya merefleksikan estetika tinggi, kesopanan, serta filosofi mendalam yang berkembang di lingkungan kerajaan Jawa seperti Yogyakarta dan Surakarta.

Tari Bedhaya: Tarian Sakral Penuh Filosofi

BACA JUGA:Kisah Sejarah Kerajaan Banjar: Jejak Peradaban di Tanah Kalimantan!

Tari Bedhaya merupakan tarian klasik yang berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, biasanya dibawakan oleh sembilan penari wanita.

Tarian ini memiliki akar sejarah panjang dan erat kaitannya dengan ritual keraton serta penghormatan terhadap leluhur dan kekuatan supranatural.

Asal Usul dan Makna

Tari Bedhaya diyakini diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Mataram pada abad ke-17.

Menurut legenda, tarian ini merupakan bentuk persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, yang diyakini memiliki hubungan spiritual dengan raja-raja Jawa.

Bahkan, konon Sultan Agung sendiri mendapatkan ilham gerakan tari ini melalui pertemuannya secara gaib dengan sang ratu laut.

BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo: Dinasti Maritim Penyatukan Sulawesi Selatan!

Nama “bedhaya” sendiri berasal dari kata “bedaya” yang bermakna wanita istana atau penari perempuan yang menjalankan tugas khusus dalam lingkup keraton.

Keberadaan sembilan penari melambangkan sembilan arah mata angin dan unsur spiritual dalam ajaran Jawa, menggambarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Fungsi dan Keistimewaan

Kategori :