Doa Sang Ayah dan Keajaiban Kedua
Mendengar kabar tentang perbuatan putranya, Dang Hyang Siddhimantra diliputi kesedihan mendalam. Ia pun memohon kepada Naga Besukih agar anaknya dihidupkan kembali.
Doa tulus dari seorang ayah yang penuh penyesalan akhirnya menyentuh hati sang naga.
Dengan syarat bahwa Manik Angkeran harus menjalani kehidupan baru yang lebih baik dan meninggalkan sifat lamanya, Naga Besukih pun menghidupkannya kembali.
Setelah itu, Siddhimantra menggambar sebuah garis pemisah di tanah dengan tongkatnya.
BACA JUGA:Menyikapi Kisah Sejarah Gedung Filateli Jakarta: Warisan Kolonial di Jantung Kota!
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gedung Harmoni: Jejak Kemewahan Masa Kolonial yang Hilang!
Garis tersebut secara ajaib berubah menjadi lautan, yang kini dikenal sebagai Selat Bali—memisahkan Pulau Bali dari Pulau Jawa.
Nilai Moral dari Kisah Manik Angkeran
Cerita ini menyimpan banyak pelajaran berharga:
Kesempatan Kedua Adalah Anugerah: Ketika diberi peluang untuk memperbaiki kesalahan, manusia harus menggunakannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Kasih Sayang Tanpa Batas dari Orang Tua: Pengorbanan seorang ayah, yang rela memohon demi kehidupan anaknya, menunjukkan bahwa cinta orang tua sungguh tak terbatas.
BACA JUGA:Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah: Jejak Manis Sejarah Industri Gula di Nusantara!
BACA JUGA:Sejarah Rumah Residen Bone: Warisan Kolonial di Tanah Bugis!
Menjaga Keseimbangan Alam: Sosok Naga Besukih melambangkan kekuatan alam yang harus dihormati. Mereka yang tamak dan merusak keseimbangan akan menghadapi akibatnya