Dalam komunikasi sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Bima, yang dikenal sebagai Nggahi Mbojo. Bahasa ini memiliki dialek khas yang berbeda dari bahasa daerah lainnya di Nusa Tenggara Barat.
Selain itu, warisan sastra seperti Hadrah Mbojo (puisi religius) dan Kalondo (cerita rakyat) menjadi bagian penting dari kebudayaan mereka, mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan sejarah leluhur.
Menjaga Warisan Budaya
Dari era Kesultanan Bima hingga saat ini, masyarakat Bima tetap mempertahankan warisan budaya dan adat mereka dengan penuh kebanggaan.
Nilai keberanian, kebersamaan, dan ajaran keislaman yang kuat menjadi pegangan dalam menghadapi perkembangan zaman.
BACA JUGA:Sejarah Gua Diah: Mengungkap Jejak Prasejarah di Pedalaman Nusantara!
BACA JUGA:Sejarah Gua Tewet: Mengungkap Warisan Seni Cadas Prasejarah di Kalimantan Timur!
Pelestarian adat istiadat dan budaya merupakan cerminan identitas mereka yang terus hidup, memastikan bahwa generasi mendatang tetap memahami serta menghormati akar budaya mereka.