Peristiwa ini memperkuat posisi Ternate sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme.
Tantangan Kolonial dan Masa Kemunduran
Setelah Portugis hengkang, ancaman baru muncul dari Belanda yang tiba di Maluku pada akhir abad ke-16.
Awalnya, hubungan antara Ternate dan Belanda bersifat kooperatif, tetapi seiring waktu, kebijakan monopoli VOC atas perdagangan rempah-rempah memperlemah kekuatan ekonomi Ternate.
Tekanan ini berlanjut hingga abad ke-17, mengurangi pengaruh politik kesultanan secara signifikan.
BACA JUGA:Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak: Penuh Jejak Sejarah dan Setiap Bagian Rumahnya Memiliki Filosofi!
BACA JUGA:Sejarah Tari Merak: Apa itu Tari Merak? dan Bagaimana Makna Dibalik Tari itu!
Warisan Budaya dan Peran Modern
Meskipun kekuatan politiknya meredup, Kesultanan Ternate tetap bertahan sebagai penjaga tradisi dan identitas budaya masyarakat Maluku Utara.
Hingga kini, gelar sultan masih ada dan berfungsi sebagai simbol persatuan dan penjaga warisan sejarah.
Sejarah Kesultanan Ternate adalah bukti kejayaan maritim Nusantara yang mampu bersaing di kancah internasional dan meninggalkan warisan budaya yang terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.