Dikutip dari laman Kraton Yogyakarta, wayang wong bukan sekadar pertunjukan kesenian namun juga ialah bagian asal ritual kenegaraan.
Pementasannya tidak lama sesudah berdirinya kesultanan adalah upaya buat menunjukkan keabsahan menjadi penerus raja-raja Jawa, wahana pendidikan jiwa serta wahana pendidikan rapikan karma.
Zaman keemasan karya seni ini pada Yogyakarta terjadi di masa Sultan Hamengku Buwono VIII yg poly bersumber di wiracarita Mahabharata.
saat Istana Mangkunegaran menggelar pertunjukan menggunakan lakon Wijanarka, Kesultanan Yogyakarta juga menggelar pertunjukan menggunakan lakon Gandawarya.
BACA JUGA:Memahami Lebih Dalam Sejarah Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan: Ciri Khas, Keunikan dan Fungsi!
Selanjutnya, wayang jua digunakan buat memperbaiki korelasi ke 2 wilayah.
Sultan Hamengku Buwono I tercatat pernah mengirim utusan berupa rombongan terbaiknya buat pentas semalam di Keraton Surakarta, pada hadapan Sri Susuhunan Paku Buwono III.
Tradisi Wayang Orang
Wayang orang ialah pertunjukan kesenian taraf tinggi, yang menggabungkan keterampilan seni tari, seni gamelan, seni karawitan, seni drama, serta seni pertunjukan.
BACA JUGA:Sejarah Masjid Agung Semarang: Arsitektur dan Daya Tarik Masjid yang Unik!
Perkembangannya sejalan dengan perkembangan wayang kulit, hanya saja dibawakan sang orang. biasanya, kisah yg dibawakan asal asal Babad Purwo, Mahabharata atau Ramayana, yang ditambah dengan hiburan Punakawan.
Wayang orang di Yogyakarta tidak lagi eksklusif sejak putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877 – 1921), yaitu GPH Tejokusumo.
Serta BPH Suryodiningrat mendirikan Kridha Beksa Wirama, yaitu serikat tari sebagai pengisi yang bisa diikuti sang rakyat awam. Pasa masa ini juga mulai ditampilkan penari perempuan. Sebelumnya seluruh penari artinya .
Di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921 -19139) ada banyak sekali penyempurnaan tampilan buat pertunjukan.
BACA JUGA:Sejarah Masjid Agung Semarang: Arsitektur dan Daya Tarik Masjid yang Unik!
Misalnya pakaian penari yg dulunya diambil dari baju prajurit keraton diganti dengan yang mirip karakter wayang kulit. Gerakan-gerakan hewan, seperti kera, juga disempurnakan. di masa ini juga sudah ada listrik sebagai akibatnya pertunjukan mampu dilakukan hingga malam.